Jangan Cuma Copy-Paste

Wakasman-Ade Rahmat
ZMS

Persiapan debat kandidat Cagub/Cawagub Kalbar yang disiarkan live di Metro TV langsung dari Hotel Aston Pontianak kabarnya berlangsung dari H-3 acara. Namun output debat itu sendiri sepertinya tak memuaskan.

“Debat kandidat para calon Gubernur Kalbar itu biasa-biasa saja, tidak ada yang luar biasa seperti diharapkan masyarakat. Sekarang ini masyarakat tak jelas mana pemimpin yang bisa mengambil kebijakan program infrastruktur dan lainnya,” ujar pengamat politik dari Untan Jumadi SSos.

Bagi Jumadi, wajar kalau para calon gubernur itu gugup atau grogi. Waktu yang disediakan hanya dua menit dan harus memberikan jawaban mendasar. Akibatnya harapan masyarakat Kalbar memperoleh kualitas debat jadi nihil. Tapi menurutnya sudah lumayan, ada yang tampil bagus, namun ada pula yang tak menguasai masalah.

Lebih lanjut, Jumadi menilai debat kandidat tersebut tidak ada kesan yang membuat publik merasa tertarik untuk menentukan pilihan calonnya. “Saya pikir publik tidak terpengaruh oleh debat kandidat ini. Masyarakat kita sudah pintar untuk memilih calon Gubernur Kalbar ke depan,” tuturnya.

Sementara, pengamat politik dari Untan DR Zulkarnaen merasakan tidak ada gebrakan atau terobosan dari semua kandidat.

Terobosan dalam membangun perbatasan sangat minim. Ada calon yang malah mengedepankan ide dan program dari nasional. Tidak ada program diri sendiri untuk membangun perbatasan lantaran kurang menguasai masalah.

“Warga kita di perbatasan sudah bosan dengan program-program dari nasional selama ini tidak jelas. Seharusnya mereka ada program tersendiri untuk pembangunan perbatasan, tidak copy-paste ucapan pejabat pusat,” pungkasnya.

Senada dengan Zulkarnaen, Wakasman SHI MSi, Puket III STIT Iqra Kapuas Hulu menyatakan penyampaian program pembangunan Kalbar—secara makro—idealnya tidak menyentuh ke kebijakan yang telah dilakukan. Sebab bisa saja terjadi konsep tersebut mengadopsi dari konsep tujuan pembangunan nasional.

“Goal—sasaran—yang ingin dicapai dengan digelarnya debat kandidat adalah seluruh kandidat mampu menyampaikan konsep yang murni dari ide dan pemikiran sendiri yang berangkat dari pengalaman serta kenyataan yang ada di Kalbar,” katanya.

Sementara salah seorang mahasiswa yang menuntut ilmu di STAIN, Ade Rahmat, menilai dalam memilih jangan sampai termakan primordialisme kesukuan, keagamaan, dan isu-isu lainnya karena sangat tidak mendidik. Pilihan masyarakat haruslah pilihan cerdas, dengan data yang dianalisis dan kuat.

Rakyat bilang, rakyat sudah cerdas. Kalau cerdas tentunya akan memilih pimpinan daerah yang paling cerdas pula. Khalayak meyakini, delapan kandidat yang tampil di Metro TV untuk berdebat adalah delapan politisi Kalbar yang paling bersinar saat ini. Semua pasti cerdas dan semua pasti berusaha tampil merakyat. Rata-rata punya pengalaman menjalankan pemerintahan, rata-rata pernah menjabat sebagai kepala daerah. Tapi satu hal yang khalayak butuhkan, pemimpin yang punya terobosan tersendiri untuk membawa masyarakat Kalbar yang heterogen tak hanya bersaing antarsesama, tapi kompak untuk meraih peluang bersaing dengan provinsi lain. Kekuatan Kalbar justru ada pada keberagaman. *