Lampion tetap ada, kue keranjang juga tersedia berikut pernak-pernik lainnya. Soal keyakinan bukan penghalang. Tionghoa penganut muslim di Melawi mendatangkan dua ustaz kondang.
Perayaan Imlek selalu identik dengan Tionghoa tanpa memandang agama dan keyakinan. Warga Tionghoa yang beragama Islam, Kristen, Buddha, Hindu, Katolik turut merayakan rutinitas pergantian tahun yang menggunakan sistem lunisolar tersebut. Terlebih lagi Tionghoa yang menganut agama Konghucu.
Agama seolah telah melebur oleh keberagaman yang tertanam dalam diri setiap pribadi warga Tionghoa yang memang banyak melalui perkawinan campur. Tak heran apabila perayaan Imlek setiap tahunnya selalu meriah.
Pada momentum Imlek 2563 yang bertepatan dengan Senin, 23 Januari 2012, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Melawi turut mempersiapkan kemasan acara perayaan.
“Bagi kami, Imlek sebagai sarana meningkatkan silaturahmi di kalangan keluarga. Kami akan pulang kampung merayakan Imlek bersama-sama,” kata Muhammad David Lay atau Lay Kien Chai, Sekretaris PITI Melawi ditemui di kantornya, Kamis (19/1).
Populasi warga Tionghoa yang beragama Islam di Kabupaten Melawi terbilang cukup banyak, mencapai 289 orang. Terbanyak berada ibu kota kabupaten, Nanga Pinoh sebanyak 110 orang. Jumlah tersebut belum termasuk anak-anak mereka ditambah pendatang baru yang terus bertambah. “Kami yakin masih banyak lagi Tionghoa Islam di Melawi,” ujar David Lay.
Menurut dia, jumlah Tionghoa muslim di Melawi yang lumayan banyak itu memberi nuansa tersendiri dalam perayaan Imlek. Tentunya dengan penerapan nilai-nilai syariat Islam.
Salah satunya dengan menyelenggarakan tablig akbar di pendopo rumah dinas Bupati Melawi pada Minggu, 30 Januari 2012, mengundang Ustaz Tan Kok Liong yang populer dengan nama Ustaz Anton Medan.
Dijadwalkan hadir juga sebagai penceramah, Ustaz Ang Chai Huat alias Buya Muhammad Yusuf. Kedua ustaz itu didatangkan untuk memberi tausiah Maulid Nabi Muhammad SAW dan tahun baru Imlek 2563. Sekaligus memperkaya wawasan ilmu keagamaan muslim Tionghoa di Kabupaten Melawi. “Ini jelas memberi warna tersendiri bagi perayaan Imlek,” paparnya.
Bagi mereka, Tahun Baru Imlek seolah telah menjadi bagian napas kehidupan. Imlek juga dimaknai sebagai sarana menjalin silaturahmi dengan keluarga. Jalinan kekeluargaan saat Imlek ini bisa dilihat dari banyaknya warga Tionghoa di perantauan yang pulang kampung. Walau jauh di luar negeri seperti Taiwan, Tiongkok, Singapura, termasuk di belahan provinsi lain di Indonesia, mereka pulang kampung halaman.
Menjelang Imlek, arus transportasi umum banyak diisi warga Tionghoa melalui akses angkutan udara, darat, maupun transportasi air. “Tahun ini saya akan mudik ke Serawai, Kabupaten Sintang,” ujar David Lay yang akrab disapa Acai.
Berkumpul dengan sanak famili setelah setahun atau bertahun-tahun tidak bertemu merupakan saat yang menggembirakan. Dalam kondisi ini digunakan untuk berdakwah dan memperkuat ukhuwah islamiyah.
Warga Tionghoa muslim lainnya, Liu Kim Jiu atau Ediyanto mengatakan Imlek mirip perayaan Idulfitri. Diwarnai dengan saling kunjung mengunjungi ke sanak famili yang merayakan Imlek. “Saya punya keluarga yang merayakan Imlek dan yang merayakan Idulfitri. Saat Imlek saya berkumpul ke rumah keluarga yang merayakan Imlek. Saat Idulfitri saya berkunjung ke rumah keluarga yang merayakan Idulfitri,” papar Ediyanto.
Jika Idulfitri, Ediyanto keluarganya menyisihkan waktu kurang lebih satu minggu untuk berkunjung dan menunggu silaturahmi keluarga. Begitu pula ketika Imlek. Walau hanya berkunjung, setidaknya menyisihkan waktu khusus dua atau tiga hari untuk ke rumah keluarga sesama Tionghoa.
“Satu per satu rumah keluarga saya datangi. Biasanya dalam satu rumah pasti ada orang yang tidak pernah bertemu. Karena merantau ke luar,” ulas laki-laki yang bekerja di Putussibau ini.
Adiyanto telah menganut Islam cukup lama, namun dirinya tetap bersilaturahmi dengan keluarga lainnya yang berbeda keyakinan. Dengan momentum Imlek ini justru mempererat jalinan keluarga Tionghoa. Bagi dirinya, hubungan keluarga tidak bisa diputus oleh apa pun. Tetap harus terjalin hingga kapan pun.
“Keluarga sangat penting, mesti terus dijaga agar tetap terjalin. Imlek, sarana untuk terus menjalin hubungan baik dengan keluarga. Biar kita jauh walau kita sibuk, tetap saja meluangkan waktu untuk pulang kampung,” pungkasnya.
Keberadaan muslim Tionghoa di kabupaten berjuluk tanah juang ini, tak terlepas dari peran PITI. Organisasi yang awalnya bernama Pembina Iman Tauhid Islam ini didirikan di Jakarta pada 14 April 1961.
PITI memiliki program dakwah Islam khususnya kepada masyarakat keturunan Tionghoa dan pembinaan kepada muslim Tionghoa dalam menjalankan syariah Islam di lingkungan keluarga nonmuslim. PITI didirikan oleh Abdul Karim Oei Tjeng Hien, Abdusomad Yap A Siong, dan Kho Goan Tjin.

