Esoterik, Puasa Total Seluruh Hasrat Syahwat

Menyelami multifungsi dan multidimensi puasa rasanya tak akan habis-habisnya kita merasakan, betapa puasa Ramadan begitu indahnya, begitu nikmatnya untuk diresapi. Historikal puasa itu sendiri perlu kita telusuri sehingga dipahami untuk apa kita menahan segala nafsu. Dengan begitu, kita tahu persis makna puasa sebagai ibadah ritual klasik.

Mengapa dikatakan ritual klasik? Tidak lain karena sudah diinstruksikan Allah SWT kepada umat-umat sebelum umat Nabi Muhammad.

Jadi nabi-nabi terdahulu sebenarnya sudah ada. Dibuktikan dalam Surah Al-Baqarah ayat 183. Kama kutiba alal lazina ming koblikum. Dalam ayat tersebut puasa diinstruksikan kepada umat-umat sebelum kamu.

Cuma, bagaimana cara mereka dan faedah mereka. Tentu kita tidak tahu persis. Ketika Muhammad diutus sudah jelas regulasinya tentang puasa itu seperti yang kita alami sekarang. Oleh karena itu, kalau ada ibadah puasa yang tidak sesuai dengan regulasi yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan Alquran, maka ibadah itu ditolak.

Kaitannya dengan fungsi multifungsi puasa jelas komplet. Pertama, fungsi konfirmatif. Maksudnya, seseorang tidak dibiarkan dengan mudahnya mengaku dia sebagai orang Islam, kalau dia tidak puasa di bulan Ramadan tanpa alasan-alasan yang dibenarkan. Selain konfirmatif juga sebagai bukti pengukuh keislaman dan keimanan seseorang.

Kedua, fungsi purifikatif. Fungsi ini sudah di atas fungsi konfirmatif. Artinya bagaimana seseorang yang berpuasa itu sesungguhnya menyucikan dirinya. Kemudian puasa itu juga merupakan sebuah instrumen pembersih kotoran-kotoran jiwa. Banyak juga ibadah lain sebagai instrumen pembersih seperti salat. Bedanya dari segi bentuk pelaksanaan, kalau salat nyata, sementara puasa bukan ibadah publik seperti salat tetapi ibadah rohani. Karena hanya individu dan Tuhan saja yang tahu.

Oleh karena itu, orang yang berpuasa itu tidak hanya menolak yang haram dan menjauhkan sesuatu yang belum tentu halal. Selanjutnya fungsi purifikatif itu juga penjernihan. Bahwa puasa itu berfungsi mematahkan dua syahwat sekaligus. Yaitu syahwat perut dan al faraj.

Oleh karena itu ketika kita pernah mendengar hadis yang mengatakan bahwa man soma romadona imanan wahtisaban ghofiro lahu matakoddama mi zambih. Puasa ketika dilakukan penuh keimanan dan penuh harapan akan dihapus dosa-dosanya, bahkan dijanjikan seperti bayi yang baru lahir.

Ketiga, fungsi iluminatif. Kita ketahui bahwa banyak para aulia’ dan orang-orang saleh terdahulu kecintaan mereka terhadap puasa luar biasa. Mereka suka sekali berpuasa. Dengan puasa mereka mendapat penyucian dan pencerahan batin. Jadi seseorang yang benar-benar mengerjakan puasa itu akan mendapatkan pencerahan batin.

Keempat, fungsi proserfatif. Maksudnya, puasa itu selain menyucikan jiwa juga berdampak positif terhadap kesehatan tubuh manusia. Sebagaimana Rasulullah bersabda, saumu tasihhu. Berpuasalah kamu maka kamu akan sehat.

Rasulullah juga bersabda, likulli sai’in zakah, wazakatul jasad assaum. Segala sesuatu itu ada zakatnya. Zakatnya tubuh itu puasa. Jadi dengan demikian sudah tampak bahwa puasa itu betul-betul mampu membersihkan jiwa dan jasad.

Dari semua multifungsi puasa di atas itu puasa juga ibadah transformatif. Karena dalam puasa itu benar-benar mengubah orang menjadi takwa. Mengubah orang yang fasik menjadi saleh.

Kalau dikaitkan dengan multidimensi, Ghazali membaginya dalam tiga dimensi. Pertama, dimensi eksoterik. Ketika seorang berpuasa hanya mampu menahan makan, minum, dan menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seksual.

Kedua, dimensi semi eksoterik. Maksudnya ketika seorang berpuasa tidak hanya sekadar mampu menahan makan, minum, dan hubungan seksual saja. Tetapi bagaimana mampu menahan seluruh pancaindranya. Puasa itu artinya menahan.

Ketiga, dimensi esoterik yang merupakan dimensi paling tinggi. Dengan hasil paling optimal. Seseorang berpuasa secara total. Mencekik syahwat badaniyah dan syahwat batiniyah. Dia mampu memuasakan hati, pikiran, dan lain sebagainya dari kerinduan dan seluruh hasratnya kepada siapa saja selain Allah.