Ramadan dan Nikmat Kemerdekaan

Hari ini 67 tahun silam. Tanggal 17 Agustus seluruh bangsa Indonesia meraih kemerdekaan lewat perjuangan panjang dan tak kenal lelah. Bangsa ini berhasil memulai hidup baru, hidup sebagai bangsa merdeka yang menghirup udara kebebasan. Lepas dari pengapnya kungkungan kerakusan, keserakahan, kesombongan, dan penindasan penjajah yang telah bercokol dan mengangkangi negeri ini selama tiga setengah abad.

Semangat perlawanan anak bangsa yang didominasi oleh kaum muda saat itu sangat kental dengan nilai-nilai religius. Dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, peletak dasar konstitusi negeri ini secara eksplisit menyatakan bahwa anugerah kemerdekaan Indonesia adalah berkat rahmat Allah SWT.

Sadar bahwa kemerdekaan adalah anugerah Allah SWT, dengan langkah yang mantap mereka mencanangkan Piagam Jakarta, agar perjalanan anak bangsa ke depan tidak melupakan nilai-nilai Ilahiyah. Meskipun akhirnya tujuh kata dari piagam Jakarta tersebut dihilangkan karena keinginan yang tulus untuk hidup bersama di negeri ini, tetapi semangat piagam ini tidak pernah padam di dada mereka; bahwa umat Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini semestinya mengisi negeri dengan nilai-nilai religius.

Cita-cita mereka untuk mewujudkan negeri ini agar tampil Islami adalah sangat rasional. Pertama, cita-cita mereka adalah amanah para pejuang perintis kemerdekaan yang telah syahid sebelum menghirup udara segar kemerdekaan. Sudah menjadi realitas sejarah yang tidak boleh dimungkiri bahwa mayoritas mereka adalah para ulama.

Kedua, momentum pemilihan tanggal 17 Agustus di bulan Ramadan sebagai tanggal kemerdekaan oleh Bapak Ir Soekarno sebagai pendiri bangsa. Ketiga, pemahaman keislaman mereka yang integral mendorong jiwa mereka secara aktif untuk mewujudkan nilai-nilai Islam di seluruh sektor kehidupan, termasuk dalam kehidupan bernegara.

Apa yang telah dilakukan oleh para pendiri negeri ini sudah sangat bijak. Usaha mereka agar negeri ini menjadi negeri yang diridhai Allah dengan menjadikan nilai-nilai Islam sebagai roh negeri ini mudah-mudahan mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah. Kalaupun ada di antara mereka yang tidak memperjuangkan hal tersebut karena faktor-faktor tertentu, maka hal itu menjadi tanggung jawab mereka di hadapan Allah SWT dan kita berdoa semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka. Setelah 67 tahun menghirup udara kemerdekaan, apa kontribusi kita buat mengisi kemerdekaan negeri ini?

Kadang-kadang nikmat yang telah dirasakan terlalu lama bisa menghilangkan rasa kenikmatan. Jika pendiri ini gegap gempita menyambut kemerdekaan karena mereka baru menikmati alam bebas setelah sekian lama terkungkung; kita kadang-kadang sama sekali tidak merasakan kenikmatan itu. Peringatan hari kemerdekaan kita lewati hanya sekadar seremoni dan bahkan hura-hura dan penuh maksiat.

Di banyak tempat acara tujuh belasan terkesan sama sekali tidak mencerminkan rasa syukur akan kemerdekaan. Sebagian masyarakat ada yang mengisinya dengan lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, lomba karaoke, dan bahkan menampilkan hiburan yang mempertontonkan aurat.

Di kalangan pejabat, acara ini diisi dengan berkunjung ke taman makam pahlawan untuk mengheningkan cipta dan merenungkan perjuangan mereka yang telah berjuang buat negeri. Mengunjungi makam dan kuburan dalam Islam akan efektif manakala niat dari kunjungan mengingatkan kita akan nasib kita yang juga akan menyusul mereka.

Tetapi kalau acara itu hanya sekadar seremonial, lalu yang berkunjung tidak memperbarui janji untuk melanjutkan amanah perjuangan para pahlawan, bahkan diri mereka penuh dengan obsesi dunia dan kepentingan pribadi, maka acara itu tidak akan membuahkan hasil.

Menghadirkan kembali dokumen sejarah bangsa dan semangat perjuangan mengisi kemerdekaan adalah sebuah keniscayaan bagi kita. Mudah-mudahan peringatan Kemerdekaan ke-67 RI yang bertepatan dengan bulan Ramadan seperti saat diproklamasikan, akan membuat seluruh komponen bangsa terutama kaum muslimin mendapatkan semangat baru untuk melanjutkan perjuangan para pendiri bangsa ini dengan nilai-nilai ketakwaan.