|
Kamis, 04 Februari 2010 , 16:05:00
Sekadau. Satu hal paling merusak citra Pilkada adalah praktik money politic. Praktik ini masih dinilai paling jitu menaklukkan pemilih. Itu sebabnya, Pilkada Sekadau masih rawan praktik politik uang itu.
“Ambil uang itu lalu pilihlah sesuai dengan masing-masing pilihan. Jangan memilih orang yang membayar hak pilih kita. Kalau saja hal itu terjadi dan dilakukan oleh oknum tim sukses, silakan ambil uang itu dan mengenai pemilihan itu kembali pada kita saat menyoblos,” ungkap Matheus seorang warga Belitang Hilir, kemarin.
Menurutnya, kalau hal ini benar-benar terjadi, tim sukses kandidat telah melakukan politik kotor. Itu sama saja mencederai demokrasi. Praktik money politic adalah perusak demokrasi itu sendiri.
“Money politic atau politik uang itu jelas ketika duduk nantinya tidak akan membela kepentingan rakyat, melainkan membela kepentingan yang bayar. Masyarakat dalam hal ini sebagai penentu pemenang salah satu kandidat nantinya, jelas harus pasang tarif yang tinggi jika dikasih uang oleh tim sukses. Dengan catatan jangan memberikan kartu pemilih kita,” jelasnya.
Kepada Equator Matheus menjelaskan, jika kartu pemilih diminta oleh tim sukses, silakan lapor pada Panwaslu. Meskipun pada saat Pilkada nantinya yang akan memilih itu buta ataupun sakit, tapi jangan sampai memberikan hak pilih kepada orang lain. Sebab, itu saja ikut andil dalam melahirkan pemimpin korup.
“Money politic itu rentan dengan korupsi. Tak mungkin orang membuang puluhan miliar karena jabatan tanpa kepentingan. Itu sama saja omong kosong jika ada tim sukses yang mengatakan ingin membela kepentingan rakyat, tapi tidak memedulikan uang yang habis selama kampanye. Mengenai tim sukses yang membagi uang, silakan lapor pada Panwaslu di masing-masing daerah. Anda sebagai pelapor tetap dilindungi dan jangan takut melapor jika ada tim yang bagi-bagi uang atau minta kartu pemilih kita,” pungkasnya.
Matheus juga mengakui, praktik money politic memang sulit untuk dihilangkan. Soalnya, antara yang memberi dan menerima sama-sama senang. Kalau sama-sama senang, pastilah semua diam. Kecuali, ada salah satu pihak terutama yang menerima tak mau, itu bisa membongkar praktik money politic.
“Kadang, tim sukses sangat pandai memanfaatkan situasi. Harus diakui kondisi rakyat secara umum memang miskin. Mereka sangat membutuhkan fresh money. Bila dikasih uang begitu saja, jelas mereka akan senang. Apalagi kalau jumlah uang yang dikasih itu besar, pasti lebih senang lagi,” ungkap Matheus.
Yang menjadi persoalan, bila ada kasus money politic, hampir tidak ada pelakunya yang bisa diseret ke pengadilan. Kemudian, kalaupun ada ketangkap, bukan kandidatnnya melainkan tim suksesnya saja.
“Apalagi Panwaslu umumnya sangat lemah dalam mengumpulkan barang bukti. Hal ini juga dipicu, orang hanya pandai melapor tapi tak dilengkapi bukti. Kadang, laporan yang disampaikan kandas di tengah jalan sebelum diajukan ke pengadilan,” ungkap Matheus.
Dengan kelemahan-kelemahan itu, tim sukses tidak akan ragu melakukan praktik money politic. Satu hal yang bisa diharapkan hanyalah, masing-masing kandidat menyiapkan tim anti money politic. Itupun kalau mau. “Kalau tidak, terpaksalah kita akan menyaksikan praktik money politic tanpa ada yang harus ditakuti,” ujar Matheus. (gan)
|