|
Senin, 08 Februari 2010 , 08:53:00
Pontianak. Kondisi tubuh yang prima dan kondisi angin baik, sangat mendukung sukses dan keberhasilan penerjun payung saat pendaratan. Seperti yang disampaikan Jamaster PASI Kalbar, Mei Sulawesiyanto SH MH.
Menurut Mei Sulawesiyanto, sebelum melakukan penerjunan terlebih dahulu penerjun payung memeriksakan kesehatan tubuhnya. Baik tekanan darah, paru-paru dan sebagainya, dengan harapan agar penerjun dapat melaksanakan tugasnya.
“Sebelum kita terjun payung, kesehatan kita diperiksa oleh dokter. Kalau menurut dokter boleh, kita bisa terjun payung,” ungkap Mei ditemui usai terjung payung di areal jalan MT Haryono pada kegiatan bike to work kemarin.
Bersama lima anggota Paskhas Udara, Letda Jalu MS, Serda Yusuf, Serda Mei, Praka Ganjar, dan Pratu Romi dan anggota PASI Kalbar Iwan Dirgantara mereka melakukan terjun payung di ketinggian 5000 meter dari permukaan laut.
Terang saja aksi berbahaya tersebut disambut peserta bike to work dengan decak kagum. Pasalnya tidak semua orang bisa melakukan aksi menantang maut itu.
Selain itu, mengenai jam terbang seorang penerjun dan pengalaman kerap menentukan keberhasilan penerjun untuk jatuh di matras poin ini. Untuk menjadi atlet terjun payung, dijelaskan pria yang juga dosen hukum Untan ini minimal berumur 13-14 tahun.
“Minimal usia remaja lah, dari 13-14 tahun. Tetapi hal ini disesuaikan dengan jenis parasutnya,” ungkap Mei yang sudah melakukan penerjunan mencapai 2504 kali.
Selain parasut, para penerjun dibekali alat bernama altimaster, di mana alat tersebut digunakan untuk mengetahui jarak agar penerjun bisa langsung menarik parasut.
“Ketinggian 3000 meter kita sudah siap mencabut payung, jika di bawah jarak itu sudah beresiko,” kata Mei yang sudah ikut terjun payung sejak 1981 ini. (boy)
|