|
Rabu, 10 Maret 2010 , 12:56:00
BAGHDAD. Hari ini Iraq dijadwalkan mengumumkan hasil paling awal penghitungan suara pemilu parlemen Minggu lalu (7/3). Kemarin petang (9/3) sebanyak 30 persen kertas suara dari berbagai penjuru Iraq selesai dihitung. Hingga kini, kubu incumbent Perdana Menteri (PM) Nuri al-Maliki dilaporkan masih unggul.
Pemerintahan Maliki kemarin juga merilis angka resmi partisipasi warga dalam pemilu parlemen pertama pascaserah terima keamanan dari tangan Amerika Serikat (AS) tersebut. Tingkat partisipasi pemilih secara nasional mencapai 62,4 persen. Meski lebih rendah daripada partisipasi pemilu parlemen pada 2005 yang mencapai 76 persen, antusiasme warga Iraq dalam pemilu kali ini diapresiasi Washington.
Presiden AS Barack Obama menyebut pemilu parlemen yang diwarnai ledakan puluhan mortir itu sebagai wujud keberanian dan keteguhan hati Iraq. "Saya salut kepada rakyat Iraq yang kembali mengabaikan ancaman (keamanan) demi tegaknya demokrasi," papar pemimpin 48 tahun itu seperti dilansir Agence France-Presse.
Obama sekaligus menegaskan bahwa penarikan pasukan AS dari Iraq akan berjalan sesuai jadwal. "AS akan menarik pasukan dan menyisakan sekitar 50.000 personel militer nontempur sesuai deadline yang ditentukan pemerintahan Obama, yakni pada 1 September (tahun ini)," ungkap Jenderal Ray Odierno dalam tayangan The Early Show stasiun televisi CBS.
Untuk menepati jadwal tersebut, para komandan militer AS di lapangan rutin memantau perkembangan situasi keamanan Iraq. Hingga kini, lanjut Odierno, tanda-tanda yang muncul justru menunjukkan kesiapan Iraq membentuk pemerintahan baru secara damai. "Kami yakin, kami sudah berada di jalur yang benar," tandas petinggi militer 56 tahun itu kepada USA Today.
Rencananya, hasil akhir penghitungan suara pemilu parlemen Iraq dirilis pada 18 Maret mendatang. Tapi, hasil finalnya akan dipublikasikan akhir bulan. Sebab, sebelum hasil final dirilis, pemerintah dipastikan bakal sibuk mengusut kasus-kasus kecurangan pemilu. Diperkirakan, masa saling lapor kecurangan dan penyelesaiannya memakan waktu sekitar dua pekan.
Setelah pengumuman hasil final pemilu yang memperebutkan 325 kursi di parlemen itu, pemerintah Iraq masih harus melewati perdebatan sengit membentuk kepemimpinan baru. Meski mendapatkan suara mayoritas di sembilan di antara 18 provinsi Iraq, kubu Maliki bersaing ketat dengan kubu Iyad Allawi. Mantan PM Iraq dalam pemerintahan sementara 2005 itu meraup cukup banyak dukungan di wilayah yang didominasi kaum Sunni.
"Partisipasi pemilih di lumbung suara Maliki dan Allawi sama-sama tinggi," ujar Ghassan al-Atiyyah, direktur Yayasan Iraq untuk Demokrasi dan Pembangunan.
Karena itu, potensi dua kubu untuk membentuk koalisi yang sama kuat di parlemen cukup tinggi. Padahal, visi dan misi politik mereka berbeda. Maka, 325 anggota parlemen yang baru terpilih nanti membutuhkan waktu lama untuk menentukan PM dan presiden baru.
Sementara itu, Maliki yang yakin kubunya diperkirakan mendapatkan 100 kursi di parlemen optimistis bahwa intensitas serangan teror di Iraq akan berkurang. Sebab, antusiasme warga dalam memberikan suara mereka Minggu lalu sudah merupakan bentuk kemenangan pemerintah atas teroris.
"Para teroris akan menyerah. Mereka bersumpah melancarkan lebih banyak serangan agar masyarakat takut dan tidak memberikan suara dalam pemilu. Tapi, bukan itu yang terjadi," tandasnya dalam wawancara dengan Xinhua di Hotel Rasheed yang berada di Green Zone, Baghdad.
Dia yakin, serangan teroris akan berangsur lenyap pascapemilu parlemen yang menuai pujian PBB tersebut. Pendapat yang sama dipaparkan sejumlah pakar teror Negeri Seribu Satu Malam itu. Tingginya partisipasi warga, terutama kaum Sunni, dalam pemilu Minggu lalu menjadi pukulan telak bagi Al Qaidah Iraq (AQI).
"Warga Sunni berpartisipasi. Mereka membuktikan komitmen kepada Iraq dan kepada demokrasi," ujar Hamid Fadel, pakar ilmu politik Baghdad University. (hep/ttg)
|