MSE Atasi Kecurangan Pemilu

Kecurangan dalam sistem pemilihan umum di Indonesia masih saja terjadi. Bahkan untuk memutuskan suatu kemenangan dari para colon pun tak pelak harus sampai ke tingkat pengadilan. Padahal jika pemilihan umum dilaksanakan secara jujur dan adil hal tersebut seharusnya tak perlu lagi terjadi.

Untuk meminimalisasi hal tersebut, dosen fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Maman Budiman sebetulnya sudah merancang suatu mesin suara elektronik (MSE). Bahkan alat ini pun telah diuji coba dalam sistem pemilihan Ikatan Alumni (IA) ITB beberapa waktu lalu. Hasilnya menakjubkan. Tingkat error dan kecurangan nol persen.

“Kalau menggunakan sistem elektronik yakni komputerisasi memang sistemnya masih rawan dengan kecurangan. Contoh pemilukada di beberapa daerah pun masih rawan kecurangan, meskipun sudah menggunakan komputerisasi. Namun dengan MSE ini maka tingkat kecurangannya biasa ditekan nol persen,” ujarnya, Rabu (7/12) lalu.

Mesin sederhana yang terdiri dari dua perangkat, yakni kontrol unit dan mesin suara itu bekerja layaknya mesin antre yang kita gunakan.

“Sistem awalnya sama saja, pemilih mendatangi tempat pemilihan suara, petugas kemudian memeriksa pemilih apakah terdaftar atau tidak, kemudian pemilih memasuki bilik suara. Nah, nantinya ada petugas yang mengendalikan control unit. Control unit ini fungsinya sebagai kunci karena dialah yang akan membuka dan mengunci mesin pemilih suara. Jadi kalau dia tidak menekan tombol yang hijau di control unit ini, maka si pemilih tidak akan bisa memberikan suaranya,” tutur dosen yang kerap mendesain berbagai mesin elektronik itu.

Dijelaskan Maman, ketika si pemilih akan memberikan suaranya maka lampu akan menyala, sebagai tanda bahwa alat tersebut menyala dan bukti kepada saksi di TPS bahwa si pemilih akan memberikan suaranya. Pemilih kemudian akan memberikan suaranya lewat mesin suara dengan menekan tombol nama-nama calon yang akan dipilihnya, termasuk ada pilihan abstain.

“Pemilih tak bisa memencet tombol dua kali, karena ini akan otomatis terkunci jika pemilih sudah memberikan suaranya. Kami memberikan tombol abstain sebagai hak kepada pemilih dan tergantung keinginan pemesan sendiri. Kebetulan ketika pemilihan IA ITB kemarin, panitia meminta ada tombol abstain. Dan usai memencet tombol calon itu, maka kertas suara itu akan keluar dan menunjukkan bukti siapa yang kita pilih,” tuturnya.

Kertas tersebut akan menjadi bukti ketika ada calon yang tidak percaya dengan hitungan elektronik, maka bisa dihitung secara manual dengan kertas-kertas yang keluar usai pemilihan itu.

Dari hasil uji coba yang dilakukan ketika pelaksanaan IA ITB, beberapa waktu lalu disebutkannya, bahwa hasilnya diperoleh pun nol persen error dan dan nol persen bebas virus.

“Sistem kontrol yang kami ciptakan memang berbeda dengan sistem komputerisasi yang rawan akan virus. Karena semua suara ini akan di-include dalam sistem ROM, bukan RAM. Sehingga virus tidak bisa masuk ke sistem pemilihan suara ini termasuk ke sistem penghitungannya, sekalipun ini terhubung dengan internet,” terangnya.

Alat yang diminta Hatta Rajasa Menko Perekonomian agar bisa digunakan dalam sistem pemilihan umum di Indonesia itu, dikatakannya memang sangat irit. Bahkan alat yang diciptakannya itu bisa digunakan untuk beberapa kali pemakaian.

“Ke depan kami akan menambahkan dengan GPRS dan juga GSM. Ini pun sangat hemat energi kok,” tutur ayah enam anak ini.

Ia menyebutkan untuk membuat alat tersebut ia bersama mahasiswanya hanya memerlukan waktu dua bulan, dan itu bisa diciptakan missal. “Ini layaknya kalkulator, angka berapa pun dikali, dijumlah atau dikurang hasilnya pasti hasilnya sudah pasti. Nah sistem ini pun seperti ini, berapa pun suara yang masuk dia akan menghitung secara otomatis dan tidak akan salah,” jelasnya.

Maman menyebutkan, sistem ini pun akan tetap menjamin one man one vote, serta dengan asas jurdil dan luber. (jpnn)