Kompor Nabati “Jelantah”

Kompor nabati menggunakan bahan bakar berbagai macam jenis minyak, seperti minyak bekas hasil menggoreng makanan (jelantah), minyak goreng curah, minyak nyamplung, minyak jarak, minyak kopra, dan sebagainya bisa jadi solusi alternatif menghadapi naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

“Selain mudah dipakai, Kompor Nabati ‘Jelantah’ juga murah, aman, hemat, dan cepat. Proses memasak menggunakan kompor minyak nabati ini bisa satu setengah kali lebih cepat daripada menggunakan kompor minyak tanah,” kata Direktur Utama PT Tiara Sakti Persada (TSP) Iqbal Farabi, di sela peluncuran kompor tersebut di Jakarta, Kamis (8/3) lalu.

Iqbal menjelaskan, PT TSP menjadi satu-satunya pemegang hak distribusi kompor yang dibanderol seharga Rp295 ribu per unit, itu. Menurut dia, kompor nabati bisa menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya ekonomi, terutama bagi ibu rumah tangga yang biasa memasak menggunakan kompor berbahan bakar elpiji.

Iqbal mengungkapkan, kompor nabati tersebut merupakan asli produksi dari alumni Universitas Pelita Harapan (UPH) yang tergabung di dalam PT TSP. “Kompor nabati kami telah teruji kualitasnya menggunakan proses produksi pabrikasi, berapi biru, dan sudah dipatenkan,” ujar dia.

Iqbal menerangkan, proses memasak menggunakan kompor minyak nabati ini bisa satu setengah kali lebih cepat dibanding menggunakan kompor minyak tanah. “Sebagai contoh, sebuah rumah tangga yang biasa menggunakan 10 liter minyak tanah, dengan kompor ini hanya cukup menggunakan lima liter minyak nabati atau minyak jelantah,” katanya.

Sebagai tahap awal, lanjut Iqbal, pihaknya akan mendistribusikan 10 ribu unit kompor nabati per bulan, dan selanjutnya akan ditingkatkan menjadi 100 ribu per bulan. Sementara itu, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Raja Sapta Oktohari menyambut positif kehadiran kompor nabati tersebut.

“Kompor ciptaaan anak negeri ini perlu kita dukung, apalagi ini membantu mengatasi kelangkaan minyak tanah dan keterbatasan pasokan gas. Belum lagi nanti harga BBM akan naik,” jelasnya.

Raja berharap pemerintah mendukung inovasi baru tersebut. Hipmi, lanjut dia, siap menjadi mitra dalam pengembangan kompor nabati tersebut. “Sudah saatnya segala proses produksi, baik itu rumah tangga maupun sektor usaha, menggunakan energi alternatif terutama dari nabati,” ujarnya.

Sistem pembakaran

Ketua Tim Perekayasa KTMB Sjaffriadi menjelaskan, diperlukan teknik pembakaran yang dapat mengatasi fiskositas atau kekentalan minyak dan titik nyala yang tinggi. Titik nyala atau ignition point minyak nabati jauh lebih tinggi, berkisar 270 derajat Celsius hingga 340 derajat Celsius atau 5-6 kali lipat kerosin dan solar atau diesel, yang titik nyalanya 50 derajat Celsius-55 derajat Celsius.

Bahan bakar nabati adalah trigliserol atau asam lemak mempunyai rantai karbon yang lebih panjang, yaitu C12 sampai C18. Adapun kerosin yang merupakan salah satu turunan minyak bumi atau bahan bakar fosil mengandung molekul hidrokarbon (HC) yang memiliki 8-9 panjang rantai karbon (C8-C10).

Selain itu, kekentalan minyak nabati juga jauh lebih tinggi, yaitu 17-32 kali dibandingkan kerosin dan minyak solar. Untuk mengatasi kendala, kuncinya pada pemanasan. Bahan bakar nabati dipanaskan pada suhu tinggi dan menekan dengan pompa untuk mengubahnya menjadi “kabut”.

Penggunaan bahan bakar nabati (BBN) dan kerosin perbandingannya 5:2. “Penggunaan kerosin sesungguhnya dapat digantikan dengan biosolar,” kata Sjaffriadi.

Pemanasan kompor

Untuk menyalakan kompor, diperlukan beberapa tahap, yaitu pemanasan burner yang berupa pipa spiral menggunakan spiritus. Setelah itu, ke dalam pipa tersebut dipompakan kerosin atau biosolar. Pembakaran biosolar dapat meningkatkan suhu hingga 100 derajat Celsius. Setelah itu, dengan teknik pemompaan, dimasukkan minyak nabati ke dalam pipa spiral. Pembakaran itu menghasilkan panas hingga 1.000 derajat Celsius. Keseluruhan proses itu memerlukan waktu lima menit.

Tahun ini, tim perekayasa KTMB akan mempersingkat proses persiapan tersebut, dari lima menit menjadi tiga menit. Untuk itu, materi pipa spiral akan diganti dengan yang memiliki penghantar panas lebih baik.

Menurut anggota tim lainnya, Nugroho Adi Sasongko, untuk sampai ke tahap produksi komersial, akan dilakukan serangkaian uji konstruksi, khususnya untuk memenuhi standar keamanannya.

Sementara itu, uji lapangan sudah dilakukan di Kota Bekasi dengan melibatkan 20 pengusaha tempe dan tahu. Uji coba menggunakan berbagai bahan bakar, seperti jelantah, oli bekas, dan minyak jarak. Hasilnya dinilai memuaskan. Hingga saat ini, dari sisi komersial, telah ada industri mesin di Bandung yang menyatakan minatnya untuk memproduksi kompor tersebut.

Untuk pengembangan kompor ini, Kementerian Riset dan Teknologi akan memberikan insentif sebesar Rp250 juta untuk membuat kompor tekan multifuel generasi baru. “Kompor yang akan dibuat tahun ini 200 unit,” kata Sjaffriadi lagi.

Kompor baru itu akan dibuat lebih kecil sehingga dapat dimuat dalam gerobak pedagang makanan keliling. Kompor generasi tiga ini diharapkan dapat bersaing dengan kompor elpiji berukuran 3 kilogram yang sekarang ini banyak dipakai masyarakat. (Jp/ristek)