Putussibau – Bayi kembar berusia tiga bulan mengalami gizi buruk. Kini kedua bayi tersebut dirawat di Pusat Rehabilitasi Gizi Buruk (PRGB) Putussibau.
Siti Wahdah SGz RD MPH, koordinator PRGB mengatakan bayi kembar tersebut berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Bayi laki-laki memiliki berat badan 2,16 kg dan bayi perempuan hanya 1,60 kg.
“Kita menangani sejak Sabtu (21/7) lalu. Keduanya berasal dari Desa Lawik, Kecamatan Embaloh Hilir,” ujarnya, Selasa (31/7).
Mulai dari kehamilan, kandungan anak pertama dari pasangan yang masih muda itu tidak ditangani secara baik. Pasalnya tidak pernah diperiksakan kepada bidan atau tim kesehatan. Bahkan ketika melahirkan hanya ditangani dukun beranak. Begitu juga ketika lahir, kedua bayi hanya diberikan air susu ibu (ASI) selama seminggu. Dengan alasan air susu tidak mengalir lagi, sehingga bayi diberi susu formula dan susu kaleng.
“Saat masuk PRGB, bayi mengalami diare. Bahkan bayi perempuan harus diopname di RSUD dr Achmad Diponegoro karena mengalami diare berat. Sore ini (kemarin, red) kemungkinan bayi sudah bisa keluar dari rumah sakit. Sementara untuk bayi laki-laki setelah ditangani di PRGB berat badannya sudah bertambah menjadi 2,3 kg,” katanya.
Selain tidak pernah ditangani bidan saat mengandung dan pascakelahiran, penyebab gizi buruk tersebut lantaran kehidupan orang tua penderita yang miskin. Penyebab lainnya karena ketidaktahuan orang tua akan pentingnya memberikan asupan gizi kepada bayi.
“Menurut standar penanganan di PRGB penderita akan ditangani selama 90 hari. Tapi kebanyakan tidak sampai 90 hari penderita sudah kembali normal,” jelasnya.
Pada 2012 ini, lanjut Siti Wardah, PRGB sudah menangani empat kasus gizi buruk. Tiga harus dirawat inap di PRGB dan satunya lagi gizi buruk ringan dan tidak sampai rawat inap. (aRm)
