Potensi dan Proyeksi Danau Najam

Eksotik dan Mampu Dukung Pengadaan Air Bersih

Bupati Kayong Utara Hildi Hamid, Danau Najam
Kamiriluddin
Bupati Kayong Utara H Hildi Hamid menembus ilalang air mengikuti alur Sungai Rantau Panjang untuk tiba di Danau Najam
Sukadana
 

Danau Najam di pelosok Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir memiliki potensi pesona alam luar biasa dan memiliki karbon berlimpah untuk pasokan udara segar. Diproyeksikan danau itu untuk memenuhi kebutuhan air bersih layak konsumsi, namun sedang diteliti supaya tak mematikan habitat kawasan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kayong Utara mulai melirik Danau Najam yang direncanakan untuk sarana air bersih Kabupaten Kayong Utara. Untuk penelitian awal, Bupati Kayong Utara H Hildi Hamid turun langsung untuk meninjau langsung lokasi danau Najam, Sabtu (25/2).

Datang ke lokasi tersebut, Bupati Hildi didampingi Kabag Humas dan Protokoler Setda Pemkab Kayong Utara Drs Joni Tarigan, Kepala Kantor Lingkungan Hidup H Syaiful SSos MSi, Kasat Pol PP KKU Drs Mas Yuliandi, Kabid Cipta Karya Dinas PU Hairil, staf bappeda, dan Hamsyah yang menjabat Kades Rantau Panjang.

Danau Najam persis berada di ujung tanggul TR 9 perkampungan transmigrasi Desa Rantau Panjang. Jarak Danau Najam hingga ke jalan provinsi Sukadana-Teluk Melano sekitar 12 km.

Sumber air Danau Najam diketahui berasal dari mata air Gunung Panti yang masuk di jejaring gugusan Taman Nasional Gunung Palung (TNGP). Jarak Danau Najam ke Gunung Panti diketahui sekitar 25 km.

Sedangkan letak Danau Najam sendiri berdasarkan peta, berada di luar kawasan TNGP dan di luar hutan lindung. Danau yang diketahui sudah ada sejak zaman pemerintah kolonial Belanda itu masuk dalam kawasan hutan produksi (HP).

Bupati yang ingin melihat secara langsung potensi air di danau itu, sengaja meluangkan waktu demi melakukan perjalanan untuk melihat dan mempelajari topografi dan kawasan habitat yang berpangku kepada air dari Danau Najam. Bupati dan rombongan menggunakan speedboat (kapal cepat) dan bergerak dari Jembatan Rantau Panjang, mengikuti alur sungai yang berliku-liku. Perjalanan dimulai pukul 08.00 WIB dan tiba di lokasi pukul 11.00.

Berdasarkan data yang terangkum menggunakan GPS, perjalanan melalui sungai tak kurang 40 km. Jaraknya memang tak begitu jauh. Namun karena di pengujung sungai alurnya semakin sempit dan dangkal, terpaksa speedboat tak bisa melaju.

Bahkan, tak jarang mesin dua speedboat yang digunakan bupati dan rombongan mati mendadak karena sampah rumput menumpuk melilit kipas. Sesekali, salah seorang dari rombongan terjun ke air untuk menarik speedboat.

Tiba di lokasi, Bupati Hildi dan rombongan langsung menyantap nasi bungkus yang sengaja dibekal untuk mengganjal perut. Usai makan, bupati beserta tim langsung melakukan survei di danau tersebut.

“Cukup layak untuk dijadikan sumber air bersih, tinggal danaunya kita keruk untuk diperdalam dan dibersihkan lagi,” kata bupati menjawab wartawan Equator, Kamiriluddin yang ikut pergi ke lokasi itu.

Jika diamati, danau lumayan luas. Hanya saja, kalau dilihat dari kasatmata, luas danau sudah mengecil. Hal ini dikarenakan rumput liar tumbuh subur sehingga menutupi air permukaan danau dan berubah menjadi daratan. “Untuk mengembalikannya seperti semula, masih bisa dikeruk,” kata bupati.

Menurut Kepala Desa Rantau Panjang Hamsyah, danau ini sudah ada sejak lama bahkan ketika zaman Belanda sudah diberdayakan sedemikian rupa. Pasalnya, letak Danau Najam tergambar jelas di peta yang diciptakan para penjelajah Belanda. “Untuk sekarang, masyarakat transmigrasi memanfaatkan air danau ini untuk diminum,” ujarnya.

Danau Najam, diakui Hamsyah, tidak pernah kering sekalipun ketika musim kemarau. Justru jika musim penghujan danau semakin terlihat luas karena debit airnya semakin tinggi. “Kalau musim hujan airnya semakin tinggi bahkan tanggul di sekitar danau ini tenggelam,” katanya.

Melihat potensi Danau Najam, Bupati Hildi Hamid bersama tim ke depan akan mencoba melakukan pembahasan. Tidak menutup kemungkinan, air dari Gunung Panti yang ditampung di Danau Najam ini, bisa dialirkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di dua daerah seperti Kecamatan Simpang Hilir dan Teluk Batang.

“Sedangkan kalau untuk masyarakat Sukadana, sekarang ini sedang dimaksimalkan sejumlah mata air yang ada di Sukadana,” timpalnya. (lud)