Puasa dan Habitus Baru

Hari-hari ini, umat muslim kembali menjalani puasanya di bulan penuh rahmat dan magfirah (ampunan), menyambut sapaan kasih Sang Khaliq. Bagaimana kita memaknai puasa tersebut sehingga keberadaan kita semakin bermanfaat bagi sesama?

Adalah suatu kegembiraan yang tak terhingga manakala kita sebagai umat-Nya mampu melaksanakan apa yang diwajibkan oleh Allah SWT dengan penuh kerelaan dan ketulusan hati. Kita memenuhi kewajiban kita kepada-Nya sebagai ungkapan syukur atas segala rahmat dan nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita selama setahun berjalan.

Puasa sesungguhnya merupakan anugerah yang tak terhingga bagi umat manusia untuk membuat hidupnya menjadi lebih bermakna. Allah SWT di dalam Alquran berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang-orang bertakwa.” (Surat Al-Baqarah: 183).

Puasa merupakan mutiara kehidupan yang membuat kita menjadi lebih sabar, tawakal dalam menyikapi berbagai persoalan. Dengan berpuasa, hati kita menjadi lebih bersih, tabah, nyaman, damai, dan sejuk. Dengan berpuasa, kepekaan dan kepedulian kita terhadap sesama (lebih-lebih bagi yang membutuhkan) menjadi lebih terasah. Dengan berpuasa, kita menjadi pelopor kejujuran dan keadilan di tengah dunia yang penuh keculasan. Dengan berpuasa, kita menciptakan habitus baru yang lebih manusiawi, berkeadaban, dan berharkat-bermartabat.

Itulah sebabnya, banyak pihak selalu merindukan datangnya bulan suci Ramadan. Bulan yang penuh berkah yang melimpah. Bulan yang penuh rahmat dan magfirah. Bulan yang memberi peluang emas kepada umat manusia (khususnya umat muslim) untuk menyegarkan diri (bersyukur-berefleksi), membangun kesadaran dan habitus baru yang dinamis menuju perikehidupan yang lebih adil, damai, sejuk, dan berkeadaban.

Bulan suci Ramadan memberikan kesempatan kepada kita semua untuk secara bersama-sama menciptakan perikehidupan yang saling menghargai, saling menghormati, saling membantu, bekerja keras, bekerja sama bahu-membahu membangun masyarakat, bangsa, dan negara kita ke depan menjadi lebih baik di tengah dunia yang makin sempit dan kompetitif saat ini.

Bagi kepentingan penyempurnaan transformasi individual, bulan suci Ramadan merupakan kesempatan yang paling baik untuk berefleksi. Menganalogi JB Sugita dalam “Beragama Secara Dewasa: Sebuah Autorefleksi”, bulan suci Ramadan memberikan kesempatan kepada kita untuk secara kritis dan dewasa memeriksa kembali praktik keagamaan yang kita hayati, memanfaatkan segala daya pribadi untuk meneliti segala pengalaman hidup di bawah terang agama, dan meneguhkan kemerdekaan dan tanggung jawab pribadi serta tanpa henti mencari terang baru.

Bulan suci Ramadan memberikan kesempatan kepada kita sebagai umat Allah SWT untuk terus-menerus menghayati dan menerapkan agamanya secara benar; menaklukkan roh jahat dalam segala manifestasinya: kedengkian, kekejian, kerakusan, ketidakadilan, ketidakjujuran, keculasan, dan sebagainya. Bulan suci Ramadan menjadi pedoman dan pemacu perkembangan pribadi; penghargaan-penghormatan individu yang tinggi dalam kehidupan sehari-hari menuju ke pemenuhan seluruh dimensi manusia yang jasmani-rohani itu.

Bulan suci Ramadan memungkinkan kita untuk semakin dapat memerdekakan diri, agar dapat berbuat apa pun yang positif dan bermakna menuju kepenuhan manusiawi disertai dengan tanggung jawab pribadi yang tumbuh atas inisiatif sendiri. Mampu bertindak meyakinkan atas dasar imannya, sembari membuka diri dan rendah hati jika ternyata apa yang ia perbuat perlu diperbaiki dan disempurnakan dalam kesempatan baru.

Mengapa Allah SWT mewajibkan orang beriman untuk berpuasa? Meminjam Nova Ningtyas D (2008), tujuan utama dari puasa adalah untuk membentuk manusia yang bertakwa. Selain itu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah SWT, baik dalam Alquran maupun hadis Rasulullah SAW, hikmah-hikmah puasa adalah sebagai berikut:

Pertama, meningkatkan derajat orang mukmin menjadi orang yang bertakwa. Sebab orang yang bertakwa itu adalah orang yang paling mulia di sisi Allah SWT, sesuai firman Allah SWT (QS Al-Hujurat:13), “Sesungguhnya yang mulia di antara kamu di sisi Allah SWT adalah yang paling takwa di antara kamu.”

Kedua, menyehatkan badan. Sabda Nabi Muhammad SAW, “Berpuasalah agar kamu sehat.” Maka, hikmah yang terkandung dalam puasa bukan hanya berguna untuk menyehatkan jiwa belaka, melainkan juga dapat menyehatkan badan.

Ketiga, mendidik orang untuk memiliki sifat sabar. Jika puasa tersebut dilakukan dengan sebaik-baiknya, maka akan timbul dalam diri seseorang sifat sabar karena dalam berpuasa seseorang akan dilatih untuk bisa menahan diri dari perbuatan-perbuatan yang dapat membatalkan puasa, misalnya makan dan minum. Walaupun makanan dan minuman yang dimiliki halal, namun ia tidak mau memakan dan meminumnya karena belum waktunya untuk makan dan minum sampai waktu magrib.

Keempat, puasa merupakan pelindung diri dari perbuatan keji dan munkar atau tidak senonoh. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, “Puasa itu perisai (pelindung diri) yang membentengi dari sentuhan api neraka.” (HR Ahmad, Muslim dan Al-Baihaqi).

Kelima, menanamkan rasa cinta kasih kepada orang fakir dan miskin karena dapat merasakan penderitaan orang-orang yang kekurangan makanan. Setelah kita seharian merasakan menahan rasa lapar tentunya akan menumbuhkan rasa kasih dan sayang kepada orang-orang fakir dan miskin.

Agar ibadah puasa di bulan suci Ramadan sungguh membawa perubahan yang signifikan dalam hidup kita, baik dalam tataran individual maupun sosial, puasa harus bebas dari nuansa ritual formalistik. Ia sungguh harus menukik ke makna substantif di balik kegiatan puasa itu.

Kita, khususnya dalam konteks puasa (umat Islam) jangan sampai terperangkap ke dalam buaian keberhasilan puasa formal yang bersifat fisik semata. Tetapi harus membawa perubahan dan perbaikan kualitas kehidupan menuju pencapaian ketakwaan hakiki (ABD A’LA, 2006).

Puasa harus membuat kualitas hidup kita hari (tahun ini) lebih baik dari kemarin (tahun yang lalu) dan besok (tahun depan) lebih baik dari hari (tahun ini). Peristiwa puasa hendaknya memberi spirit baru kepada setiap umat yang menunaikannya agar menjadi pribadi-pribadi baru yang sungguh fitri. Dengan adanya pemaknaan dan penghayatan yang benar akan hakikat puasa serta adanya upaya serius dan tulus untuk kembali pada kondisi sebagaimana pada saat kita lahir, doktrin dalam Islam bahwa manusia itu terlahir dalam kesucian sungguh menjadi kenyataan.

Mari melalui ibadah puasa ini, kita terus memperbarui diri, menguatkan harapan dan iman, berserah kepada Allah SWT agar hidup kita menjadi lebih bermakna, tidak saja untuk diri kita sendiri (individual) tetapi juga bagi sesama (sosial). Mari melalui ibadah puasa ini, kita bangun habitus baru yang lebih manusiawi, bermakna, berkeadaban, dan berharkat-bermartabat. Selamat menunaikan ibadah puasa 1433 Hijriah.