Tumpang Negeri Ritual Usir Roh Halus

Pangeran Ratu Gusti Suryansyah, Tumpang Negeri
Pangeran Ratu Gusti Suryansyah berjalan menuju stager, melakukan ritual Tumpang Negeri dengan menghanyutkan perahu warna kuning di Sungai Landak, Kamis (21/6)

Ngabang – Suasana penuh khidmat mewarnai acara puncak upacara ritual adat Tumpang Negeri, setelah acara Ziarah Akbar sehari sebelumnya. Acara Tumpang Negeri ke-12 puncaknya digelar di halaman Keraton Ismahayana Landak, Kamis (21/6).

Beberapa raja yang ada di Kalbar hadir. Bahkan utusan dari Kerajaan Palembang juga turut hadir pada upacara adat tersebut. Acara juga dihadiri Pangeran Ratu Kerajaan Landak Gusti Suryansyah sesepuh Keraton Ismahayana Landak, Asisten III Setda Landak Mohtar yang mewakili Bupati Landak, Wakil Ketua DPRD Landak Markus Amid, serta hadir pula jajaran Kompirpinda serta sejumlah Kepala SKPD di lingkungan Pemkab Landak. Acara tersebut juga dihadiri tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, dan para tamu undangan.

Ditemui usai resepsi Tumpang Negeri dan Ziarah Akbar, Pangeran Ratu Kerajaan Landak Gusti Suryansyah mengatakan upacara adat ini merupakan adat budaya Melayu Landak yang diwariskan kepada pewaris adat budaya Melayu yang ada di Landak.

“Makna yang terkandung dalam upacara adat ini untuk menunjukkan bahwa hubungan antara manusia dan alam memang sangat dekat. Artinya, manusia memahami betul ada makhluk lain selain manusia yang setiap saat berinteraksi dengan kita,” jelas Suryansyah.

Sebagai sesama hamba Allah, kata Suryansyah, digelarnya upacara adat ini mengajarkan bagaimana supaya manusia bisa berkomunikasi dan berintegrasi dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Patut dipahami, dalam konteksnya acara ini bukannya berarti menyembah makhluk tersebut. Tetapi patut menunjukkan rasa hormat terhadap makhluk itu.

“Melalui ritual ini kita berharap, penghormatan yang kita berikan kepada makhluk itu, maka mereka juga akan menghormati kita dan tidak mengganggu kita dalam kehidupan sehari-hari,” kata Dosen Fisipol Untan ini.

Suryansyah meminta agar makna-makna seperti itu patut dipahami bersama-sama. “Jadi jangan ada mengatakan bahwa kita telah berbuat sirik dan sebagainya. Yakinlah bahwa keraton ini memang dibentuk untuk menegakkan kalimah Allah. Itu yang patut kita kedepankan,” tegasnya.

Ketua panitia penyelenggara Tumpang Negeri dan Ziarah Akbar Keraton Ismahayana Landak Heri Irawan mengatakan sebelum acara resepsi tersebut, juga sudah digelar kegiatan sedekah kampung, ziarah ke makam raja pertama Landak dan babak penyisihan lomba sampan yang merupakan rangkaian dari kegiatan tersebut.

“Ada juga pasar rakyat yang digelar Sabtu (16/6) hingga Minggu (24/6) mendatang, final lomba sampan dan yasinan di Keraton Landak, ekshibisi hadrah yang sudah kita gelar,” jelasnya.

Kegiatan inti dari adat Tumpang Negeri dan Ziarah Akbar, selain melakukan ziarah ke makam raja pertama Landak, juga dilakukan penghanyutan perahu rakit yang di atasnya terdapat miniatur sampan berwarna kuning dengan bendera yang juga berwarna kuning.

“Di dalam miniatur sampan tersebut ditempatkan seekor ayam kampung, sepasang boneka yang terbuat dari tepung, dan berbagai macam sesajen. Miniatur sampan tersebut langsung dihanyutkan ke Sungai Landak oleh Pangeran Ratu Kerajaan Landak beserta sejumlah raja se-Kalbar, Asisten I Setda Landak, dan Wakil Ketua DPRD Landak,” ungkap Heri. (tar)