Perajin Tenun Kekurangan Pewarna dan Bahan

Haspriati tenun ikat Sambas
Muhammad Ridho
Haspriati memperlihatkan cara menghani tenun ikat sebelum dimasukkan ke dalam pembidang
Sambas
 

Sebagai generasi penerus tenun ikat Sambas, Haspriati optimis mampu mengembangkan kerajinan khas Kabupaten Sambas tersebut, walaupun hingga kini belum mendapatkan benang dan pewarna kain yang berkualitas.

Haspriati merupakan salah satu penenun kain ikat yang masih konsisten hingga kini. Ia sudah mengenal kerajinan tenun ini sejak usia 10 tahun. Dijelaskan Haspriati, benang ikat adalah bahan baku tenun ikat. Untuk memperoleh benang ini bisa didapat di Pasar Sambas.

Harga seikat benang tersebut Rp 7.500. Supaya bisa menghasilkan satu helai kain tenun ikat ukuran sarung jelasnya, ia bisa menghabiskan 5 ikat benang.

“Sehelai kain cual yang dibuat dari tenun ikat dapat dikerjakan selama tiga hari,” kata Haspriati kepada Equator, Sabtu (8/10) lalu ditemui di kediamannya.

Menurut Haspriati, awal proses pembuatan tenun ikat dimulai dengan melakukan tahapan liring benang ikal atau menggulung benang pada alat rol. Setelah benang benar-benar tergulung dalam rol, proses selanjutnya masuk ke tahap penganian atau proses menguraikan benang menjadi tali-menali. Panjangnya mencapai 2 meter.

“Setelah selesai, baru masuk ke dalam alat pembidangan, sebagai langkah awal proses pewarnaan benang ikat sesuai dengan motif yang ada. Dalam pewarnaan kita menggunakan raja wantek merek Gatot Kaca, sesuai warna yang diinginkan,” jelasnya.

Namun pewarna yang ia gunakan sekarang ini kualitasnya kurang baik. Untuk menyiasatinya, sebelum proses pencelupan, pewarna dicampur garam kiloan. Setelah itu dicelupkan benang yang telah diikat dengan daun pisang yang telah direbus dan dikeringkan.

“Ini dilakukan agar proses pewarnaan tidak menyebar dan sesuai dengan motif yang direncanakan,” terangnya.

Menurut Haspriati, alat tenun ikat yang digunakan sekarang ini merupakan warisan turun temurun. Sudah tiga generasi menggunakan alat tenun ini. Tak heran, usia alat tenun yang terbuat dari kayu jenis temau ini berkisar 100 tahun. Saat ini kayu jenis itu sudah langka dan sukar dicari.

“Sejauh ini saya sudah mengenal hampir puluhan motif. Sebagian berasal dari ibu saya, dan sebagian lagi adalah kreasi sendiri. Motif yang cukup dikenal sampai sekarang, yakni Tarang Nanang, Serong Mawar, dan Daun Priya,” bebernya.

Ketiga motif ini merupakan motif yang paling banyak disukai pemesan. Sayangnya, proses pembuatan motif ini tidak mudah. Salah satu yang harus diperhatikan adalah panjang benang ikat sejumlah titik dibalut dengan kulit pisang batu, atau dalam bahasa kampung disebut pisang gale.

“Dalam dua bulan terakhir ini, saya sudah berhasil membuat 8 helai kain sarung tenun ikat. Harga per helainya mulai dari Rp 250 hingga Rp 300 ribu. Itu pun tergantung dari motif yang dihasilkan, karena tiap motifnya punya tingkat kesulitan selama proses pembuatan,” ujarnya.

Ditegaskan Haspriati, walaupun benang dan pewarna yang digunakan sekarang ini kualitasnya tidak baik, namun bila dijalankan dengan sepenuh hati akan berbuah manis. “Saya berharap ke depan penjual benang dan pewarna bisa memasukkan barang yang berkualitas, sehingga hasil tenun ikat juga berkualitas,” harapnya. (edo)