Desa Temajuk, Perbatasan Negara yang Terisolasi

Masyarakat dan aparat yang bertugas di Tanjung Bendera Desa Temajuk, Kecamatan Paloh berusaha mendapatkan sinyal seluler agar bisa berkomunikasi dengan sanak keluarganya.
Masyarakat dan aparat yang bertugas di Tanjung Bendera Desa Temajuk, Kecamatan Paloh berusaha mendapatkan sinyal seluler agar bisa berkomunikasi dengan sanak keluarganya.
Sambas
 – 

Desa Temajuk, Kecamatan Paloh merupakan wilayah perbatasan yang masih terisolasi. Faktanya infrastruktur jalan belum dibangun, tidak ada penerangan dari PLN dan belum masuknya jaringan telekomunikasi. Praktis, informasi dari negara Malaysia jauh lebih dominan dikonsumsi masyarakat perbatasan.

Untuk mendapatkan sinyal seluler di perbatasan, komunikasi hanya dapat dilakukan bila berada di Tanjung Bendera. Kawasan ini harus ditempuh setelah melakukan perjalanan lebih kurang 30 menit dari pusat Desa Temajuk. “Tidak heran kalau melihat warga Temajuk menggunakan seluler dengan kartu Malaysia. Bahkan setiap hari dapat kita lihat petugas perbatasan menghubungi keluarganya atau melakukan koordinasi tentang perbatasan di Pantai Tanjung Bendera, karena hanya lokasi tersebut yang dapat sinyal seluler,” kata tokoh masyarakat Desa Temajuk, H Muzani kepada Equator, belum lama ini.

Dijelaskannya, untuk melakukan komunikasi ia membeli kartu seluler Malaysia, karena sinyal telekomunikasi dari Malaysia lebih kuat. “Karena hanya dengan kartu Malaysia saya menghubungi keluarga di Sambas,” ungkap pria yang rajin berkebun ini.

Hal senada diungkapkan Kepala Desa Temajuk, Mulyadi. Jika ada hal penting tentang pemerintahan ataupun ada kunjungan pejabat pusat, provinsi maupun daerah, maka ia langsung menuju Tanjung Bendera supaya bisa berkomunikasi. “Jika tidak begitu, maka kita tidak akan mendapatkan informasi maupun perkembangan kunjungan pejabat ke Temajuk. Kesulitan inilah yang masih kami rasakan,” bebernya.

Mulyadi mengharapkan sarana komunikasi, infrastruktur dan penerangan cepat masuk di desanya, agar masyarakat perbatasan yang merupakan serambi terdepan Kalbar dapat menikmati pelayanan dari pemerintah. “Sekarang ini untuk penerangan masyarakat menggunakan genset maupun generator, tapi dengan penerangan ini setiap harinya pengeluaran terlalu besar, beda dengan masyarakat perkotaan yang dapat menikmati listrik dengan biaya yang murah,” ujarnya. (edo)