WWF Latih Warga Buat Karet Unggul

Sugiyo saat mengajarkan okulasi
Sukartaji
Sugiyo saat mengajarkan okulasi

Nanga Pinoh – Pemkab Melawi ternyata tidak bekerja sendiri untuk meningkatkan ekonomi keluarga masyarakat. Karena masih banyak yang peduli dengan nasib warga Melawi, seperti WWF Indonesia Program Kalbar yang melatih warga untuk membuat karet unggul.

Pelatihan yang diikuti 14 warga dari Desa Mawang Mentatai, Kecamatan Menukung sendiri merupakan perwakilan kelompok dampingan. Kegiatan yang bertempat di Nanga Pinoh itu berlangsung dua hari sejak Sabtu (23/6) lalu.

Kegiatan itu sendiri dimulai dengan pemaparan teori di aula pertemuan Emaus selama satu hari penuh, Sabtu (23/6). Lalu dilanjutkan dengan praktik lapangan juga seharian, Minggu (24/6) lalu. Mereka diajar oleh Sugiyo, staf kapasitas di Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Melawi.

Di lapangan, warga awalnya diajarkan untuk mendapatkan mata entres yang baik. Masing-masing menghasilkan puluhan mata entres, lalu dievaluasi oleh Sugiyo. Setelah dianggap cukup berhasil mendapatkan mata entres, warga membuat jendela di matang batang bawah. Baru setelah itu ditempel dan dibalut dengan plastik.

“Kita sangat berharap agar warga yang dilatih ini bisa mempraktikkan apa yang telah diajarkan dan dapat mengajarkan pengetahuan ini kepada warga lainnya. Terpenting adalah melakukan uji coba terus-menerus hingga bisa. Sebab, secara teori mudah, namun perlu dipraktikkan terus-menerus,” kata pelatih pembuatan bibit unggul karet, Sugiyo.

Warga yang dilatih ini sendiri telah memulai pekerjaan untuk membuat karet unggul sejak lebih setahun lalu. Mereka bekerja dengan kelompok yang didampingi oleh WWF Kalbar. Di Mawang Mentatai sendiri sudah ada 7 kelompok aktif.

Mereka telah menanam pohon entres, bahkan sudah memiliki kebun entres yang siap panen. Selain itu, mereka juga telah menanam batang bawah yang siap untuk okulasi. Tentunya, ilmu okulasi yang diajarkan akan mereka bawah pulang ke kampung untuk membuat bibit unggul yang telah mereka rintis selama ini.

Bila pembuatan bibit ini berhasil, bukan hanya untuk kebutuhan membuat kebun baru atau peremajaan kebun tua milik warga Mawang Mentatai. Mereka juga bisa menjual bibit tersebut pada petani di Melawi. Bahkan bukan tidak mungkin bisa menyuplai kebutuhan di kabupaten lain di Kalbar.

“Kebutuhan bibit saat karet unggul saat ini sangat banyak. Baik yang ada di Melawi maupun dari luar. Hingga saat ini, penangkar yang ada di Melawi belum bisa memenuhi kebutuhan tersebut,” ungkap Sugiyo.

Bahkan, bila pembibitan dikelola kelompok ini dengan manajemen baik. Bukan tidak mungkin, Desa Mawang Mentatai akan menjadi penghasil bibit unggul yang terbesar di Kalbar. Asalkan bibit yang dihasilkan benar-benar bisa dipertanggungjawabkan keasliannya.

Bila ini terjadi, jelas akan meningkatkan taraf hidup warga Mawang Mentatai sendiri. Lantaran, harga bibit saat ini untuk Okulasi Mata Tidur (Omat) minimal Rp 2 ribu per batang. Kalau dibuat Okulasi Payung Satu (Opas), satu batangnya bisa mencapai Rp 7 ribu.

Bayangkan saja, bila satu kelompok tani per tahun bisa menghasilkan 100 ribu bibit Omat, maka akan menghasilkan sekitar Rp 100 juta. Namun bila bibit tersebut dijadikan Opas sekitar 50 ribu batang, maka akan menghasilkan dana sebanyak Rp 350 juta.

Di tempat sama, salah seorang peserta pelatihan, Madung, mengatakan sangat bersyukur bisa mengikuti pelatihan. Lantaran pelatihan ini merupakan kebutuhan guna mengembangkan kebun entres yang ada di kampung mereka.

“Kawan-kawan sangat antusias karena pelatihan ini pas sekali dengan kebutuhan kami. Entres di kampung sudah siap panen. Kami sangat berterima kasih pada WWF dan pelatih yang telah mengadakan pelatihan ini,” timpalnya. (aji)