Koleksi prangko menggambarkan etika serta tata krama, tentang ketertinggalan prangko atau filateli dari arus perkembangan sejarah dalam telekomunikasi. Telateli dapat dikembangkan melalui tahapan waktu di dalam dunia pendidikan kepada siswa
Salah seorang pengurus daerah Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Kalbar, Badaruddin AMd mengatakan, dalam upaya mengenalkan berbagai jenis dan kegunaan prangko kepada siswa. Untuk dirinya berharap adanya kerja sama dengan pihak Diknas dalam pengembangan telateli kepada siswa dan masyarakat.
Menurut Badarudin, prangko kegunaannya untuk mewakili kedaulatan negara Indonesia terhadap berbagai negara. Di samping itu, setiap penerbitan prangko atau peluncuran prangko harus diwakili para seniman, ahli politik, pemerintah, dan seprofesi dalam rangka memandang ke belakang, sejarah yang dititipkan pada prangko.
Badarudin menyebutkan, sejak tahun 1838 prangko mulai dikenal oleh masyarakat.
Bahkan setiap penerbitan prangko harus ditandatangani kepala negara bersangkutan, membuktikan kedaulatan ada pada masing-masing negara. (oen)
