Enam tahun ke depan, masyarakat negeri ini diprediksi akan mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis premium. Produksi minyak menurun 15 persen per tahun, sementara konsumsi terus meningkat pesat.
“Impor akan semakin besar. Saat ini impor premium 250 ribu barel, (sedangkan) produksi dalam negeri 200 ribu barel. Penambahan kendaraan tiap tahun, sepeda motor enam juta dan mobil 600 ribu. Lima hingga enam tahun ke depan kita akan sulit mendapatkan premium,” kata pengamat energi, Umar Said di Jakarta.
Dijelaskan Umar, masalah lain juga tidak ada pemasok di kawasan ini yang mampu memenuhi kebutuhan itu. Mau tidak mau, tegasnya, harus mencari ke Amerika Serikat atau pemerintah membangun kilang baru.
“Dengan business as usual, APBN tidak akan mampu menanggung subsidi,” ungkap Umar.
Dia menjelaskan beberapa solusi mengatasi permasalahan itu. Misalnya, pemerintah harus meningkatkan produksi dengan teknologi dan eksplorasi. Kemudian, menurunkan laju konsumsi dengan menaikkan harga, substitusi minyak oleh nonminyak, dan sumber energi lokal.
Untuk meningkatkan produksi, menurut Umar, di blok lama bisa dengan cara enchanced oil recovery dengan bahan kimia dan bisa juga tanpa bahan kimia. Kemudian, teknologi MRC yang dipakai Aramco. “Teknologi ini mahal, tapi mampu menambah jumlah minyak terambil dari lapangan lama. Untuk blok baru, bisa dilakukan eksplorasi segar,” kata dia.
Sedangkan untuk menurunkan laju konsumsi, Umar mengatakan selain dengan menaikkan harga bisa memberi sinyal yang benar kepada konsumen. Bisa juga mengganti minyak tanah dengan LPG. Kemudian, mengganti premium dengan LPG, premium dengan BBG. (jpnn)
