Oleh Syaiful Muazir
(Prodi. Arsitektur Universitas Tanjungpura)
Beberapa hari ini kita merasakan panas terik matahari menyengat badan apabila sedang melakukan aktifitas di luar ruangan, hal ini mungkin saja terjadi karena perpindahan musim yang sedang terjadi maupun global warming yang melanda bumi, akibat kondisi atau proses alamiah bumi dan alam semesta maupun “perlakukan” manusia yang membuat bumi semakin panas; terjadinya efek rumah kaca, polusi, eksplorasi sumber daya alam, dan masih banyak lagi. Di mana mau tidak mau itu yang kita rasakan sekarang. Matahari dan air merupakan pendukung sumber kehidupan, dengan beberapa macam jenis sinar hantarannya, matahari dapat membuat tanaman berfotosintesa, membuat bumi lebih hangat, dan salah satu sumber energi yang tidak habis-habisnya apabila digunakan teknologi yang sesuai.
Beberapa ratus bahkan ribuan tahun sebelumnya, “persahabatan” manusia dengan matahari sangat terjalin erat, sampai-sampai matahari dianggap sebagai pencipta/dewa/tuhan pada masa kuno dahulu. Namun sekarang akibat kegiatan manusia itu sendiri “panas matahari” dianggap sebagai sesuatu yang harus dihindari, sehingga muncul teknologi-teknologi “haus” akan energi untuk menghindari panas dan membuat atmosfer “dingin” bagi ruang-ruang manusia.
Dalam ilmu fisika, khususnya berkaitan dengan bangunan/rumah dikenal kenyamanan yang berkaitan dengan hantaran panas (suhu) dan unsur lainnya ke tubuh manusia, yang disebut thermal comfort. Thermal comfort atau kenyamanan termal (yang berkaitan dengan panas) merupakan kombinasi dari beberapa kondisi seperti suhu, kelembaban, pergerakan udara, sampai pada panas tambahan yang mengalir, dimana secara keseluruhan semua indikator tersebut akan berhubungan dan menghasilkan atau menentukan pertimbangan sejauh mana seseorang akan merasakan nyaman di sebuah lokasi dan kondisi yang biasa disebut “Daerah Nyaman” (comfort zone).
Daerah nyaman merupakan kondisi lingkungan terkait dengan panas yang dapat dikatakan minimal 80% orang merasakan tidak terlalu panas atau tidak terlalu dingin. Daerah nyaman tersebut dalam biocliamtic chart (Olgyay) berada dikisaran suhu 21-30 Derajat Celcius dan kelembaban udara relatif diantara 30-65%. Jadi secara umum ketika seseorang berada disuatu tempat dengan suhu diantara 21-30 Derajat Celcius dan Kelembaban 30-65% maka kita tidak perlu khawatir untuk beraktifitas karena masih termasuk kondisi nyaman.
Daerah nyaman sangat dipengaruhi dan ditentukan dari data-data iklim yang selanjutnya dapat diproses/diplot pada psychrometric chart dengan beberapa faktor yang mempengaruhinya, yaitu: (1) Temperatur udara, dimana akan menentukan aliran atau hilangnya panas yang akan diakibatkan oleh hantaran panas melalui fluida yang terpanasi (2) Kelembapan relatif, yang merupakan perbandingan yang ada terhadap kelembapan maksimal (dalam %). (3) Kecepatan angin yang akan membantu menghilangkan panas dengan prinsip evaporasi dan konveksi.
Kecepatan angin yang nyaman berada pada 20-60 feet/menit (4) Suhu radiasi rata-rata (mean radiant temperature/MRT) adalah radiasi rata-rata dari permukaan-permukaan bidang yang mengelilingi seseorang.
Selain itu, juga perlu diketahui bahwa bahwa comfort zone bukan merupakan penilaian yang absolut, ini akan berpengaruh lagi terhadap banyak faktor yang mengakibatkan comfort zone akan mempunyai banyak nilai. Beberapa pengaruh yang akan mempengaruhi nilai comfort zone itu antara lain adalah kebudayaan, kesehatan, pakaian, dan aktivitas.
Contoh bahwa daerah nyaman/comfort zone bukan merupakan hasil yang absolut adalah ketika di Jakarta, dari penelitian yang dilakukan oleh Tri Harso Karyono (2001) mendapatkan bahwa rentang nyaman para pekerja di beberapa gedung tinggi di Jakarta (terkait dengan kegiatan, pakaian, usia, dsb) adalah pada suhu 24,9-28 dan 25,1-27,9 Derajat Celcius, sedangkan di Thailand misalnya, dari hasil penelitian Kitchai Jitkhajornwanich (2006) menghasilkan bahwa daerah nyaman yang dirasakan atau disepakati oleh masyarakat disana adalah berkisar diantara 25,6-31,5 Derajat Celcius dengan Kelembaban relatif 62,2-90%, hal ini menandakan bahwa masing-masing daerah, waktu, dan orang-perorangan dapat merasakan perbedaan daerah nyaman berkaitan dengan kegiatan/aktivitas, pakaian, kebudayaan, umur, dsb.
Dari hasil-hasil tersebut akan berpengaruh terhadap strategi pemenuhan kenyamanan seseorang terhadap lingkungannya, strategi tersebut dapat dilakukan dengan pendinginan mulai dari ventilasi alami sampai dengan menggunakan Air conditioning (AC), sedangkan untuk pemanasan dapat dilakukan dengan cara memperbanyak akses masuk sinar matahari (panas) sampai pada penggunaan bahan/material bangunan yang dapat menyimpan panas. Kesimpulan yang dapat ditarik dari tulisan ini adalah setiap orang dapat berbeda dalam merasakan/mencapai kenyamanan termal, ini terkait dengan kondisi, rentang waktu, iklim, kegiatan, kesehatan, pakaian, serta kebudayan terkait, sehingga untuk mencari “daerah nyaman” tidak absolut, adalah relatif. (syaifulmuazir@gmail.com)
