Pulang ke Surabaya Bawa Parang

Petugas mengamankan senjata tajam yang dibawa penumpang KM Lawit
Syamsul Arifin
Petugas mengamankan senjata tajam yang dibawa penumpang KM Lawit
Pontianak
 

Jajaran Polsek KP3L Pontianak menyita 10 senjata tajam (sajam) ketika razia di Pelabuhan Dwikora Pontianak, Senin (19/3). Razia digelar mencegah masuknya barang serta calon TKI illegal.

Selain itu sasaran lainnya sajam, narkoba, serta DPO sebagai antisipasi gangguan kamtibmas yang belakangan ini meresahkan warga. Sajam yang diamankan berupa parang yang dibawa penumpang ketika menunggu KM Lawit rute Surabaya-Pontianak. Sajam langsung diamankan serta pemiliknya diperiksa satu per satu oleh aparat kepolisian. Kelengkapan identitas maupun barang bawaan mereka diteliti dan diperiksa.

“Petugas tidak menemukan barang-barang atau penumpang yang mencurigakan. Polisi hanya menemukan beberapa orang penumpang asal Jawa Barat yang tidak memiliki identitas. Mereka diamankan guna pemeriksaan lebih lanjut,” ujar AKP Jaka Budi Prasetya, Kapolsek KP3L Pontianak, kemarin.

Setelah dilakukan pemeriksaan terhadap dua penumpang yang membawa sajam, mereka mengaku hendak pulang kampung ke Surabaya setelah kerja selama sebulan di perusahaan sawit di kawasan Sintang.

Dikatakan Jaka, razia rutin yang sering digelar untuk antisipasi kamtibmas terhadap keluar-masuk orang maupun barang secara ilegal serta sajam, senpi, narkoba, maupun identitas palsu. Tujuannya menciptakan rasa aman di wilayah Pelabuhan Dwikora Pontianak.

Restu, 30, salah satu pembawa sajam mengatakan dirinya bersama enam orang lainnya hendak pulang ke Surabaya dengan alasan tidak betah kerja di perusahaan sawit PT Grand Mandiri Utama yang berada di Kabupaten Sintang.

“Kami semuanya enam orang hendak pulang kampung ke Tenggarek, Surabaya. Padahal saya baru kerja selama satu bulan sebab gajinya tidak sesuai,” ujar Restu.

Restu dan kawan-kawannya bekerja sebagai tukang tebas lahan dengan sistem bayarannya secara borongan. Mereka bekerja secara berkelompok. Satu harinya hanya bisa menebas lahan seluas satu hektare.

“Kerja kami dibayar borongan, Pak. Dalam satu hektarenya dibayar oleh perusahaan hanya 100 ribu, dalam satu bulan ini dapat sekitar 28 hektare dan uangnya pun sudah habis kami bayarkan utang ke warung,” ungkap Restu. (sul)