Pontianak – Hamnah, 50, menjadi saksi kunci atas terbunuhnya Kasja, 60, suaminya di kediamannya, Gang Rambai, Rabu (14/6) lalu. Kini Hamnah masih mendapatkan perawatan medis di RS Santo Antonius, Pontianak.
“Semua saksi telah diperiksa sesuai prosedur. Kita masih menunggu Ibu Hamnah sebagai saksi kunci untuk dimintai keterangannya. Saat ini korban masih dirawat di rumah sakit,” ungkap Kompol Puji Prayitno, Kasat Reskrim Polresta Pontianak, kemarin.
Dikatakan Puji, jika diteliti dari keterangan saksi, mengacu pada pencurian berencana. Pasalnya, sebelum kejadian ada orang asing yang telah mengintai rumah Kasja.
“Selanjutnya akan terus kita kembangkan lagi penyelidikan ini. Apakah tersangka hanya satu orang atau lebih. Tetap akan kita hukum sesuai dengan prosedur,” ungkap Puji.
Tak ada yang mengira kalau kematian Kasja berujung tragis. Pribadi kakek penyayang itu kini telah meninggalkan keluarga untuk selama-lamanya. Ironis, ternyata beberapa hari sebelumnya para pelaku sudah mengintai kediaman Kasja.
Rumah yang ditempati Kasja dan Hamnah tidak terlalu mewah. Corak sederhana sangat kental di kediaman mereka. Pria yang dulunya sebagai buruh bangunan itu juga tidak pernah memamerkan harta benda miliknya. Namun kenapa sepasang suami istri lanjut usia ini menjadi korban aksi sadis pelaku kriminal?
Dilirik dari kehidupan sehari-hari dalam lingkungan masyarakat, keluarga Kasja sangat terbuka dan familiar dengan warga sekitar. Begitu halnya terhadap suasana internal di rumah tangga mereka. Hampir tidak pernah ada masalah pribadi atau dengan warga.
Hamnah, istri Kasja, masih terbaring lemas di rumah sakit. Hantaman benda tumpul yang mendarat di beberapa bagian tubuhnya mengakibatkan luka memar. Selang infus terpasang di lengan Hamnah. Bukan hanya itu, nenek berusia 50 tahun ini pun belum dapat bernapas secara normal, masih dibantu dengan peralatan medis.
Lain halnya dengan Darma, bocah yang masih duduk di bangku sekolah dasar, cucu Kasja dan Hamnah, terlihat trauma. Raut wajahnya murung, kelopak mata kian membengkak karena menangis. Tiap kali mengingat aksi sadis yang dialami kakek dan neneknya, dia meneteskan air mata. Darma merupakan orang pertama melihat kakek dan neneknya tergeletak bersimbah darah di ruang dapur.
Seperti berita yang dilansir sebelumnya, saat itu Darma ada di rumah bersama kakek dan neneknya. Sedangkan kedua orang tua Darma masih berada di tempat kerja masing-masing. Layaknya anak-anak biasa yang senang bermain, Darma pergi bersama rekan sebayanya, tinggallah Kasja dan Hamnah pada Rabu siang lalu. Aktivitas keluarga ini pun hampir serupa setiap harinya.
Menurut Darma, tiga hari sebelum kejadian sadis itu, dia pernah melihat beberapa orang pria melirik-lirik kediaman kakeknya. Keesokan harinya, hal itu terulang kembali. Orang yang asing di mata Darma tersebut selalu melihat rumah dari luar pagar. Mereka terkesan sedang membaca kondisi dan situasi. Terutama aktivitas yang dilakukan keluarga Kasja.
“Saat kami hanya tinggal bertiga di rumah, ada orang yang mulai mengintai rumah kami. Mereka menggunakan sepeda motor. Sekitar setengah jam berlalu, mereka pergi. Saya pun langsung pergi bermain,” kata bocah polos kelas enam SD ini.
Merasa tak curiga, Darma tidak menginformasikan hal ini kepada orang tuanya, begitu juga dengan kakek dan neneknya. Pada esok hari, setelah pulang sekolah, Darma ke rumah kakeknya untuk mengganti pakaian. Kemudian pergi bermain bersama teman-temannya seperti biasa. Selang beberapa saat kemudian, sekitar pukul 14.30 dia pulang ke rumah lagi.
“Saat saya habis main, ada satu orang tak dikenal keluar dari rumah. Kami berpapasan di teras. Kemudian orang itu pergi menggunakan sepeda motor dengan terburu-buru,” katanya.
Ketika masuk ke dalam rumah, Darma terkejut dan berteriak histeris meminta pertolongan. Ternyata kakek dan neneknya telungkup tak berdaya bersimbah darah. Warga pun langsung berdatangan membantu.
Ketua RT Abdul Hamid mengatakan lingkungan di daerahnya memang sepi. Terlebih jika siang dan malam hari. Disinggung beberapa orang tak dicurigai sering masuk ke areal sekitar, dirinya mengaku pernah melihat.
Dia menuturkan, orang asing sering melintas di Gang Rambai. Bahkan di lingkungan sekitar memang kerap terjadi aksi tindak kriminalitas. “Beberapa waktu lalu juga pernah terjadi penjambretan,” ungkap Abdul Hamid.
Abdul menilai, kemungkinan besar pelaku adalah orang asing yang sering melirik situasi rumah Kasja. “Semua penghuni rumah di gang ini memang sepi jika menjelang siang. Para warga banyak menjalankan aktivitasnya. Tak heran kalau pelaku tindak kriminal semakin leluasa menjalankan aksinya,” ungkap Abdul. (sul)

