Pontianak – Mendeteksi peredaran narkoba, Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Pontianak menggandeng Rumah Sakit (RS) Bhayangkara untuk melaksanakan tes urine terhadap PNS di Pemkot Pontianak.
“Kita sudah bekerja sama dengan RS Bhayangkara, tinggal sekarang menentukan waktu yang tepat untuk melaksanakan tes urine terhadap PNS saja,” yakin Kepala BKD Kota Pontianak Zumiyati SSos, ditemui di ruang kerjanya.
Tes urine, kata Zumiyati, bertujuan mendeteksi PNS yang menggunakan narkoba. “Kalau hasil tes urine positif, kami langsung mengeluarkan SK pemecatan,” tegas mantan Camat Pontianak Selatan ini.
Selain itu, lanjut dia, tes urine bagi PNS berguna menekan penyalahgunaan narkotik dan obat-obatan berbahaya yang bisa memicu terinfeksi HIV/AIDS. Sebab sepanjang tahun 2011, BKD Kota Pontianak mencatat memberikan sanksi terhadap 52 PNS yang melanggar disiplin. Satu di antaranya dipecat karena terbukti menggunakan narkoba.
“Sepanjang tahun 2011, 52 PNS indisipliner melakukan pelanggaran berat, sedang, dan ringan. Satu orang yang melanggar berat kita pecat, SK pemecatannya sudah kita keluarkan,” jelas Zumiyati.
Sebelumnya, Ketua Badan Narkotika Kota (BNK) Pontianak Paryadi SHut MM, dalam waktu dekat akan melaksanakan tes urine bagi PNS di lingkungan Pemkot Pontianak. Selain menekan penyalahgunaan narkoba, langkah ini juga untuk menghindarkan PNS terinfeksi HIV/AIDS karena penyalahgunaan narkoba.
Ia juga menjelaskan, tes urine juga akan menggandeng Komisi Penanggulangan AIDS Kota Pontianak.
“Untuk melakukan tes urine memang membutuhkan biaya yang mahal sehingga dilakukan sekaligus, yakni tes narkoba dan HIV/AIDS," kata Wakil Walikota Pontianak ini.
Dikatakan Paryadi, bila hasil tes urine PNS positif menggunakan narkoba maka akan diberikan sanksi. “Pasti ada tahapan-tahapan yang kita berikan. Tapi yang jelas, kita akan memberikan sanksi tegas,” ucap Paryadi.
Sementara itu, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Kalbar Toto Thaha Alqadrie menyatakan terdapat 4.779 orang di Provinsi Kalbar positif HIV/AIDS hingga September 2011.
“Angka itu berdasarkan survei yang dilakukan sepanjang Juli hingga September 2011. Sebanyak 3.228 orang positif HIV dan 1.551 orang sudah masuk stadium AIDS,” katanya.
Totok mengatakan, data 4.779 orang diperoleh dari seluruh KPA yang ada di kabupaten/kota se-Kalbar. “Data itu akan terus kami gali, karena kasus HIV/AIDS adalah seperti fenomena gunung es,” kata Totok.
Dari jumlah tersebut, kata dia, lebih dari 340 orang meninggal, sehingga jumlah ini harus ditekan. Caranya dengan memberikan penyuluhan, kunjungan ke VCT, dan keterbukaan diri bagi mereka yang memiliki risiko tertular HIV/AIDS untuk memeriksakan diri. (dna)
