Sejumlah pihak kembali membahas nasib pesut Pulau Kalimantan di Jakarta, Selasa (20/3). Satwa dengan nama latin Orcaella brevirostris ini masuk kategori critically endangered. Sehingga perlu upaya serius untuk memastikan keberlangsungan hidupnya.
Salah satu penyebab terdesaknya lumba-lumba air tawar ini adalah peningkatan aktivitas manusia di sekitar habitat mereka. Populasi satwa ini terus menyusut, terutama disebabkan kesibukan lalu lintas perairan sungai di Kalimantan, serta tingginya tingkat polusi, erosi, dan pendangkalan sungai akibat pengelolaan hutan dan riparian.
Kelestarian pesut juga terancam akibat terbatasnya bahan makanan dan beberapa kasus kematian dilaporkan lantaran tersangkut jaring nelayan atau disambar baling-baling kapal.
Terkait dengan kondisi tersebut, WWF Indonesia bersama mitra-mitranya menghelat sebuah lokakarya guna meningkatkan komitmen pemerintah daerah dan pusat, serta peran serta sektor swasta, tenaga ahli, dan LSM untuk pelestarian pesut di Kalimantan.
Sejumlah pembicara hadir pada kesempatan itu. Mereka adalah Dwi Suprapti, ahli konservasi pesut di Kalbar dari WWF Indonesia dan Danielle Krebs dari RASI, salah seorang ahli konservasi pesut Mahakam.
Communications, Campaign dan Outreach Manager WWF Indonesia Desmarita Murni mengatakan para pihak diharapkan dapat menyampaikan kebijakan, program, maupun kegiatan yang dilaksanakan untuk pelestarian pesut di Kalimantan.
Salah satunya, kata Desmarita, kita mendorong upaya terwujudnya komitmen bersama melalui pengembangan kawasan pelestarian ekosistem pesut. “Dengan pola itu kita dapat berkontribusi serta memberikan manfaat bagi pembangunan daerah,” ucapnya.
Berdasarkan data yang ada, pesut mempunyai kepala berbentuk bulat seperti umbi dengan kedua matanya yang kecil. Tubuh pesut berwarna abu-abu sampai wulung tua, lebih pucat di bagian bawah dan tidak ada pola khas.
Sirip punggung kecil dan membundar di belakang pertengahan punggung. Dahi tinggi dan membundar serta tidak memiliki paruh. Sirip dada lebar membundar. Kalimantan, pesut dapat ditemukan di muara sungai, jalur sungai dan danau, seperti di Sungai Mahakam, Sesayap, Muara Berau, dan Danau Jempan di Kaltim.
Baru-baru ini WWF Indonesia dan Badan Pengembangan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) menemukan habitat baru pesut di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar. Temuan ini menunjukkan penyebaran pesut di Kalimantan cukup luas namun populasinya relatif sedikit. (dna)
