Hujan mengguyur kota Putussibau dan sekitarnya sejak kemarin malam berdampak pada Apel Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang digelar setiap tanggal 2 Mei tersebut. Apel yang sedianya digelar di halaman kantor bupati tertunda akibat hujan.
Beruntung inisiatif memindahkan apel ke aula bupati langsung direspons peserta. “Karena hujan apel terpaksa dipindahkan ke aula bupati,” kata Hadi Pranata, Kasubag Informasi dan Dokumentasi Setda Kabupaten Kapuas Hulu, ditemui EQUATOR sebelum apel dilaksanakan.
Selain itu, peserta apel sendiri juga terbatas mengingat kapasitas aula bupati yang tidak terlalu luas. “Banyak peserta yang hanya mendengar dari luar ruangan sebab kapasitas aula kecil. Tapi saya rasa makna dari peringatannya tidak berkurang,” ujar Hadi.
Apel Hardiknas sendiri dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Kapuas Hulu, Agus Mulyana. Dalam sambutan tertulisnya Agus mengajak semua pihak untuk memahami bahwa dalam dunia pendidikan manusia sebagai objek dan pemeran utamanya.
“Keilmuan sebagai medianya sementara memanusiakan manusia sebagai salah satu tujuannya. Dan kemampuan untuk menjawab sebagai persoalan yang sifatnya kekinian maupun antisipasi masa depan,” katanya saat membaca sambutan Menteri Pendidikan tersebut.
Di sisi lain lanjutnya, pihaknya menyadari tentang tantangan global dan internal yang sedang dihadapi yang mengharuskan semua pihak untuk memperkuat jati diri, identitas dan karakter sebagai bangsa Indonesia. “Bangsa kita telah banyak dikaruniai oleh Tuhan potensi sumber daya alam dan manusia yang luar biasa besarnya. Demikian juga kesempatan yang sangat terbuka untuk menjadi bangsa dan Negara yang besar, maju, demokratis dan sejahtera,” kata Agus.
Di sinilah kata Agus mengapa pendidikan berbasis karakter dengan segala dimensi dan variasinya menjadi penting dan mutlak, karakter yang ingin dibangun. “Bukan hanya karakter berbasis kemuliaan diri semata, akan tetapi secara bersamaan membangun karakter kemuliaan sebagai bangsa. Dan karakter yang ingin kita bangun bukan hanya kesatuan, tetapi secara bersamaan kita bangun karakter yang mampu menumbuhkan kepenasaran intelektual sebagai modal untuk membangun kreativitas dan daya inovasi,” tegasnya.
Menyikapi perkembangan actual terhadap munculnya perilaku destruktif, anarkis dan radikalis, pendidikan memiliki peran tanggung jawab yang besar. “Karena itu pada kesempatan yang baik ini kami ingin mengajak kepada para guru dan para pemangku kepentingan pendidikan terutama kepala sekolah untuk memberikan perhatian serius dan pendampingan lebih besar kepada peserta didik dalam membentuk dan menumbuhkan pola pikir dan perilaku yang berbasis kasih sayang, toleran terhadap realitas keanekaragaman yang dibenarkan oleh peraturan dan perundangan,” pesannya.
Perhatian lebih itu katanya bisa dalam bentuk memberikan ruang aktivitas yang positif, sehingga bisa dicegah tumbuhnya pemikiran dan perilaku destruktif, anarkis, kekerasan dan radikalisme. (lil)
