Iga Bakar Selera Indonesia

Makan bersama keluarga adalah pilihan terbaik di malam minggu. Tentu saja pilihan menu menjadi fokusnya. Maka, chef Arif Friatna memilihkan Iga Bakar (grill ribs) ala Mercure Hotel.

”Benar-benar berani. Tak hanya saat masaknya, dari proses awal sudah kuat di bumbu. Masakan Indonesia itu intinya di bumbu,” tutur Arif, 35, yang sudah melanglang di sejumlah hotel berbintang se nusantara.

Menariknya, iga diimpor dari Australia dengan bumbu Indonesia di tangan Arif yang basic-nya memang koki masakan western, menjadikan lidah kita lebih akrab. ”Bumbu dasar merah memang selera Indonesia,” kata Arif menawarkan konsumen yang berani pedas.

Sebelum dibakar (grill) bumbu-bumbu seperti serai, kemiri, bawang merah, bawang putih dan cabai merah, dan lainnya sudah dilumurkan sehingga meresap ke dalam daging. Bumbu merah ini memang khas Indonesia, jadi bukan ala barbecue yang lebih kepada daging bakar selera barat.

Ketika iga dibakar, bersama lemak sapi yang mengembang terurai menebar aroma khas. ”Ini beda dengan konro,” kata Arif. Panggang dengan api tak langsung memang lebih bagus karena lemak dan minyak tidak masuk dalam daging, tapi menetes keluar.

Aroma daging impor dan bumbu Indonesia terasa merangsang rasa lapar. Terserah mau dihidangkan dengan nasi atau kentang. Tapi memang iga bakar dari dapur restoran Mercure boleh diuji karena khas rasanya. (*)