Ragam dan Keindahan Taman Nasional Betung Karihun (Bagian-3)

TNBK Perpaduan Unik Alam, Budaya dan Petualangan

Oleh: Rio Eka Putra Balai besar Taman Nasional Betung Kerihun (BBTNBK) secara geografis terletak di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Wilayah konservasi ini di tetapkan oleh Pemerintah menjadi Taman Nasional pada (5 September 1995). Kawasan konservasi ini di kelola dengan sistem berbasiskan Resort yang tersebar di 4 (empat) sungai besar yang mengalir di dalam kawasan TNBK atau biasanya di sebut Sub DAS (Daerah Aliran Sungai), yaitu DAS Embaloh, DAS Sibau, DAS Mendalam dan DAS Kapuas. Apabila kita mengunjungi Kawasan TNBK kita dapat menikmati panorama alam yang indah, kearifan lokal budaya setempat dan petualangan yang sangat menantang, yang lebih hebat lagi semuanya itu bisa kita nikmati dalam satu paket. Panorama alam TNBK sangat di sukai oleh para wisatawan yang datang, hal ini di sebakan karena kawasan ini mempunyai Hutan Hujan Tropis yang masih Virgin (perawan) yang belum terjamah oleh manusia. Di dalam kawasan ini kita bisa melihat hutan yang sangat lebat, kita bisa menikmati indah nya matahari terbit di temani oleh kicauan beraneka ragam burung dan juga primata, terdapat juga beberapa Air terjun yang tersebar di dalam kawasan ini. Kawasan TNBK memailiki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, untuk Flora (tanaman) terdapat ratusan jenis pohon yang di dominasi oleh suku Dipterocarpaceae (meranti-merantian) selain itu juga terdapat berbagai jenis tumbuhan yang di manpaatkan oleh warga lokal sebagai obat, untuk jenis tanaman hias ada palem-paleman dan berbagai jenis anggrek bahkan anggrek hitam yang terkenal dan sudah sangat langka pun bisa kita temui. Untuk Fauna (satwa) terdapat beberapa jenis yg langka diantaranya adalah orangutan (pongo), kupu-kupu Raja Brook (trygonoptera sp) yang hanya dapat di jumpai di borneo(endemik), selain itu juga ada burung Enggang Gading (buceros rhinoceros) yang merupakan maskot dari provinsi Kalimantan Barat. Kita juga dapat menikmati atraksi budaya dan kearifan lokal masyarat yang hidup di sekitar kawasan TNBK, masyarakat lokal pada umum nya tinggal di rumah panjang yang berjejer rapi di satu atap yang biasanya di sebut rumah betang. Pihak Taman Nasional sudah bekerjasama dengan masyarakat lokal di mana dalam rumah betang tersebut di sediakan beberapa kamar kosong khusus bagi para wisatawan, jadi para wisatawan bisa ikut merasakan kehidupan masyarakat mulai dari mencari ikan menggunakan jala atau pancing, melihat mereka bercocok tanam bahkan sampai makan bersama-sama dengan masyarakat itu sendiri. Para pengunjung juga bisa membeli berbagai macam souvenir seperti tikar anyaman dari rotan, sampai pakaian-pakaian adat masyarakat Dayak yang di buat dari hasil tangan mereka sendiri. Apabila kita berkunjung pada bulan juni kita bisa melihat pesta adat masyarakat Dayak yang hanya di adakan sekali setahun. Di sekitar kawasan terdapat beberapa Sub Etnik suku dayak, di antaranya dayak iban, dayak tamambaloh, dayak bukat, dayak punan dan beberapa sub etnik lainnya. Apabila kita ingin berpetualang di alam, para pengunjung bisa melakukan pendakian ke beberapa bukit yang mempunyai ketinggian rata-rata di atas 1000 (seribu)mdpl. Khusus di DAS Kapuas kita dapat melihat gua-gua yang masih asli, dan yang sedikit lebih menantang kita juga bisa melakukan kegiatan Arung Jeram melalui riam-riam yang terdapat di sepanjang sungai tersebut. Jika para pengunjung ingin bersantai para pengunjung juga bisa memancing di anak sungai Naris yang terletak di DAS Embaloh. Di sungai ini banyak di temui ikan semah (Tor sp) yang memiliki daging sangat gurih dan merupakan salah satu jenis ikan yang sangat komersil. Semua atraksi yang sudah di sebutkan di atas bisa dinikmati di dalam kawasan Taman Nasional Betung Kerihun dengan menggunakan perahu atau long boat, karena sungai adalah satu-satu nya jalur akses menuju kawasan. Bagi para wisatawan yang ingin berkunjung bisa langsung datang ke kantor Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun (BBTNBK) yang beralamat di jalan pierre tendean, komplek kodim Putussibau, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. (Penulis adalah pengendali ekosistem hutan, Balai Besar Taman Nasional Betung Karihun)