Para siswa sekolah menengah baru saja menyelesaikan ujian nasional tahun 2012. Siswa yang tergolong pintar dan yang terkategori lumayan prestasi belajarnya, biasanya selalu siap menghadapi ujian.
Bagi mereka, kapan saja ujian dilaksanakan dan siapa saja pengawas ujian, tidak mereka persoalkan. Tingkat kepercayaan diri, kejujuran mereka dalam menghadapi ujian juga cukup tinggi. “Ujian? Siapa takut?” Mungkin inilah kalimat singkat yang mereka ucapkan.
Bagaimana pula halnya dengan siswa yang prestasi belajarnya kurang atau yang terkategori siswa pemalas? Waktu ujian tampaknya merupakan saat yang ditakuti, dibenci, mengingat kekurangsiapan diri atau mungkin memang tak pernah menyiapkan diri.
Jika menghadapi ujian nasional saja siswa bersikap seperti di atas, bagaimana pula halnya dengan sikap manusia menghadapi kematian yang sudah pasti terjadi itu? Sejumlah tulisan tentang kematian, death and dying, atau yang sejenis menguraikan bahwa banyak orang yang memang tidak siap untuk mati, takut mati, bahkan benci mati.
Mengapa demikian? Kematian mengandung kesakitan, kehancuran, kerugian, dan bahaya yang mengiringinya. Bagaimana tak benci mati, karena harus meninggalkan kenikmatan dunia yang telah dibangun dengan susah payah, meninggalkan rumah mewah, harta berlimpah, apalagi kalau semuanya itu diperoleh dari jalan atau cara yang tidak seharusnya dan ibadah pun kurang?
Bagaimana tak benci mati kalau diri belum siap (tak pernah siap?), membayangkan semua kenikmatan dunia akan ditinggalkan begitu saja, setelah itu badan akan membusuk dan yang tersisa hanya tulang belulang yang kemudian juga hancur?
Bagaimana tak benci mati karena khawatir dengan harta yang ditinggalkan, merasa keluarganya–istri dan anak-anak–belum siap untuk “ditinggal”, anak-anak masih belum siap mandiri, takut membayangkan berada di alam kubur yang gelap, amal kurang, tobat tidak sempurna, sedang dosa-dosanya membuih seluas samudra?
“Kenapa kita benci mati?” tanya seseorang kepada seorang zuhud bernama Salamah bin Dinar (Al-Hazim). Sang Zuhud menjawab, “Karena kamu telah menghancurkan akhiratmu dan membangun dunia kamu sehingga kamu tidak suka pindah dari tempat yang kamu bangun (kemegahan) kepada tempat yang kamu hancurkan.” (Ihya ‘Ulumuddin, 2/145).
Siapa sih yang berani mati, yang tidak benci mati jika diri sebagaimana yang dikatakan sang Zuhud? Tidak takut mati adalah tuntunan agama, karena begitulah sunatullah, yang hidup pasti mati. Manusia tentu tak layak mau menentang hukum-Nya.
Kematian adalah sunatullah, tak perlu dibenci. Carilah penyebab dari benci mati itu dan selanjutnya lakukan perubahan, perbaikan diri, ke arah yang telah dituntun, diatur Allah SWT dan rasul-Nya.
Yakinlah bahwa pada dasarnya kematian itu adalah penyempurnaan manusia. Kematian adalah jalan untuk menuju hidup yang abadi, menuju “kemewahan” yang baka bagi mereka yang memahaminya. Bukankah benci mati berarti pula benci terhadap suatu kepastian? (AH160412)
