“Apa? Kesalahan punya induk? Yang benar jak lah; ade-ade jak! Salah ya salah; pake ade induk segale.” Demikian mungkin bunyi komen sebagian pembaca terhadap judul Zamrud kali ini.
Pada dasarnya tidak ada manusia yang tidak punya kesalahan, meski sekecil zarah sekalipun. Bahkan seorang tokoh agama, ustaz pun tak akan pernah luput dari yang namanya kesalahan itu, apalagi ustaz-ustaz-an. Salah dengan kaitan tentang ajaran agama, biasanya disebut dosa.
Dalam benak sebagian manusia, kesalahan itu sama saja. Namun jika kita renungkan lebih mendalam, salah itu tentu ada tingkatannya. Dan hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan Baginda Rasul Muhammad SAW yang terjemahannya sebagai berikut, “Allah telah memberikan wahyu kepada Musa bin Imran di dalam Taurat: “Sungguh, pokok segala kesalahan ada tiga, yaitu sombong, hasut, dan rakus. Dari yang tiga itu muncullah enam macam yang lainnya, sehingga menjadi sembilan, yaitu kenyang, tidur, bersenang-senang, mencintai harta, mencintai pujian, dan cinta jabatan.”
Sikap sombong intinya adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain
Hasut atau dengki, merupakan satu bentuk kejahatan cukup parah. Dengan hasut, dapat timbul tindak kejahatan menyiksa sampai membunuh.
Rakus biasanya berhubungan dengan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Dengan sikap ini seseorang tak akan mampu atau mau menerima nasihat/kebenaran. Cinta harta pangkalnya adalah mencintai kenikmatan, kegemaran hidup penuh nikmat; dan kegemaran seperti ini, menurut sejumlah ulama, adalah sifat binatang. Kenyataan hidup sering menunjukkan bahwa cinta harta banyak yang berujung kepada sifat binatang, seperti perkelahian, malas/susah bergerak, dan tamak.
Adapun cinta jabatan, kekuasaan, atau pangkat, sebenarnya lebih berbahaya dibanding cinta harta. Kenapa demikian? Pada dasarnya cinta jabatan itu adalah mencintai kebesaran, keagungan, padahal keagungan itu adalah salah satu sifat Allah.
Kini, silakan evaluasi diri masing-masing. Jika ternyata induk kesalahan di atas ada pada diri, segeralah bertobat nasuha, lakukan perbaikan, jauhi amal salah, perbanyak amal saleh. “Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut, 29:64). (AH080612)
