PLN Siap Di-class Action

Singkawang – Padamnya listrik menjelang perayaan Imlek 2563 dikeluhkan masyarakat Kota Singkawang, wacana class action pun bergulir. PT PLN (Persero) Cabang Singkawang mau tidak mau harus siap menghadapi konsekuensi tersebut.

“Kalau memang ada class action, kita harus siap, karena itu memang haknya masyarakat atau pelanggan,” kata Arief Kuncoro, Manajer PT PLN (Persero) Cabang Singkawang ketika jumpa pers di Villa Bukit Mas, kemarin (24/1).

Sejak tiga hari menjelang Imlek, listrik selalu padam pada sore hari. Warga yang menyiapkan perayaan Imlek pun komplain ke Walikota Singkawang Hasan Karman. Komplain warga Tionghoa itu disambut Hasan Karman dengan penjelasan ketika membuka Festival Imlek, bahwa listrik itu bukan tanggung jawab Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang, tetapi tanggung jawab PLN. Masyarakat dipersilakan menuntut haknya kepada perusahaan negara tersebut.

Penjelasan Hasan Karman itu dinilai Arief Kuncoro sebagai sesuatu yang wajar. Apalagi pemadaman listrik itu bukan disengaja PLN. “Kita sudah beri penjelasan mengenai permasalahannya, sehingga terjadi pemadaman,” kata Arief.

Padamnya listrik karena gangguan jaringan 150 kilovolt yang terkena tali kawat layang-layang. Akibatnya, terjadi black out (BO) di sistem Pontianak. “Makanya suplai beban ke arah Singkawang dan sekitarnya terganggu, padam,” ujar Arief.

Alasan klasik, padam karena kawat layang-layang itu, menurut Arief, memang demikian adanya. “Kita menanyakan penyebab BO itu kepada APDP, yang ternyata hasil record dan investasi jaringan, hal tersebut dikarenakan tali layang-layang yang menggunakan tali kawat,” terangnya.

Karena jaringan dari Pontianak itu terganggu, sekitar 40 persen warga Kota Singkawang mengalami pemadaman listrik. “Ini memang di luar keinginan kita, padahal sebelumnya tidak pernah padam,” kata Arief.

Tetapi, Arief menampik kalau PLN tidak menyiapkan segala sesuatu menjelang perayaan Imlek dan Cap Go Meh terkait kelistrikan. Di antaranya persiapan yang telah dilakukan dengan menyediakan genset beserta petugasnya di pusat Festival Imlek dan Cap Go Meh di Stadion Kridasana, hingga berakhirnya perayaan tersebut.

Selain itu, PLN juga telah menyisir jaringan listrik Singkawang terhadap hal-hal yang dimungkinkan menjadi penyebab padamnya aliran listrik, seperti kondisi pepohonan di dekat jaringan listrik dan lainnya. “Mesin yang kita miliki juga kita optimalkan fungsinya,” kata Arief.

Tetapi, listrik padam tetap tidak terhindarkan karena Singkawang masih mengharapkan suplai 19 megawatt listrik dari Kota Pontianak. Ketika jaringannya terganggu, tentunya tidak dapat ditutupi dengan daya yang dimiliki PLN Singkawang.

Upaya terkait kekurangan daya ini, jelas Arief, juga telah jauh hari telah dilakukan. Di antaranya dengan mengusulkan penambahan daya. “Tetapi ini bukan seperti mengganti gardu, butuh proses yang perlu ditempuh,” katanya.

Usulan penambahan daya pertama kali diajukan 20 megawatt. Setelah pergantian manajer PLN Singkawang, usulan diganti menjadi 15 megawatt. Pelaksanaannya telah diketahui melalui proses lelang. “Mesinnya direncanakan di Sungai Wie, kalau tidak ada halangan Juli mendatang sudah mulai operasi,” jelas Arief.

Selain itu juga akan dilakukan penambahan mesin 2 megawatt di Bengkayang dan 1 megawatt di Sambas. Kalau ini sudah terlaksana, niscaya beban listrik di Singkawang akan terakomodasi. Sehingga tidak semata-mata mengandalkan distribusi dari Pontianak.

Dengan berbagai alasan yang merupakan kondisi riil kelistrikan di Singkawang, Arief tetap menyampaikan permohonan maafnya kepada masyarakat Kota Singkawang atas ketidaknyamanan yang terjadi. “Kita mohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Ini bukan disengaja, kita juga mau listrik tetap normal,” pungkas Arief. (dik)