Taman Mei Hwa Menghipnosis Pengunjung

Mordiadi
Miniatur Tembok Cina di Stadion Kridasana Singkawang

Singkawang – Para pengunjung Stadion Kridasana Singkawang, tempat berlangsungnya Festival Imlek dan Cap Go Meh 2563 tampak terpesona. Selain karena Naga Lampion sepanjang 138 meter, juga Taman Mei Hwa yang dikelilingi miniatur Tembok Raksasa (great wall) Cina.

“Seperti bukan di Indonesia saja, benar-benar indah seperti musim semi,” kata Lauren, salah seorang pengunjung dari Jakarta ketika ditemui Equator di Stadion Kridasana Singkawang, kemarin (25/1).

Lauren tidak dapat menyembunyikan ketakjubannya ketika memasuki Great Wall yang di dalamnya terdapat Taman Mei Hwa. Bersama keluarga dan teman-temannya, dia mengabadikan diri di pohon-pohon bunga mei hwa.

Bunga mei hwa ini dikenal di Tiongkok, sebagai tanaman yang tumbuh ketika memasuki musim semi. Maka sejak saat itu dikenal Festival Musim Semi (Kuo Chun Ciek), yang menjadi agenda tahunan di negeri Tirai Bambu itu.

Dikarenakan sebagai tanda datangnya musim semi, warga Tionghoa di Indonesia, khususnya di Singkawang memanfaatkan bunga mei hwa sebagai hiasan di rumah ketika Imlek. Sehingga suasana rumah terkesan sejuk, nyaman, dan tentu saja indah dengan warna khasnya, merah jambu (pink) agak keputih-putihan.

Suasana itulah yang dihadirkan Panitia Perayaan Imlek dan Cap Go Meh 2653 di Singkawang, dengan membangun Taman Mei Hwa di tengah-tengah miniatur salah satu keajaiban dunia, Great Wall.

Ketua Panitia Perayaan Imlek dan Cap Go Meh, Benny Setyawan mengakui bahwa keberadaan miniatur Great Wall yang di dalamnya terdapat Taman Mei Hwa begitu menarik bagi para pengunjung.

Miniatur Great Wall dibangun sepanjang 220 meter, dengan bidang paling tinggi 8,2 meter dan paling rendah 2,5 meter. Para pengunjung dapat menaiki tembok tersebut dan menyaksikan keindahan Taman Mei Hwa di dalamnya.

Di antara Taman Mei Hwa terdapat rumah khas Tiongkok, kursi taman, relief naga di awan, serta lampion. “Ide ini dirancang dengan harapan agar masyarakat bisa memperoleh gambaran tentang suasana Imlek seperti di negeri Tiongkok,” kata Benny.

Selain Taman Mei Hwa yang menghadirkan suasana musim semi di Tiongkok, di Stadion Kridasana Singkawang juga terdapat rumah lampion, rumah yang dinding-dindingnya dari lampion. Di dalamnya, para pengunjung dapat melihat benda-benda peninggalan warga Tionghoa, yang kemungkinan sebagian besar sudah tidak pernah diketahui keberadaannya.

Sementara itu, pantauan Equator, para pengunjung terus berdatangan ke Stadion Kridasana Singkawang, tidak peduli siang atau malam. Bahkan sudah datang siang hari pun, datang kembali pada malam hari.

Hal itu diakui Winny, salah seorang warga Roban yang berkali-kali datang ke Stadion Kridasana. “Terasa belum puas saja, datangnya bersama keluarga, kadang juga bawa teman, kita foto-foto untuk kenang-kenangan atau bersantai di tribun stadion,” akunya. (dik)