XF Asali

NKRI Harga Mati

Menurut XF Asali, mulai abad ke-13, pedagang dari daratan Cina sudah hadir di Kalimantan Barat (West Borneo/Sie Pho Lo Cou). Di Kalbar berdasarkan data arkeologi terdapat mangkuk, cangkir, pot, dan meja dari keramik bermotif Cina buatan abad XIII (Dinasti Ming 1268-1644). Itu pertanda bahwa abad ke-13 sudah ada pedagang Cina daratan ke Kalbar.

Berikut petikan wawancara wartawan Harian Equator dengan Liu Sau Fat/XF Asali:

Sejak kapan perantauan Tionghoa hadir di Kalimantan Barat?
Pada abad VII hubungan antara Cina dengan Kalimantan Barat semakin akrab bahkan perantauan Cina sudah mulai menetap. Selanjutnya pada tahun 1292 pasukan Khubilai Khan dalam perjalanan ke Jawa sempat singgah di Pho Lo Cou atau pulau Borneo. Pasukan Tartar ini ketika kalah dalam peperangan di Pulau Jawa saat melawan Raden Wijaya (Kerajaan Majapahit) ada yang tidak berani pulang ke negerinya dan melarikan diri hingga menetap di Kalimantan Barat.
Dari mana Bapak mengetahui hal tersebut?
Saya memiliki kemampuan berbahasa dan membaca Mandarin. Sehingga saya membaca langsung dari naskah-naskah asli Mandarin yang layak dipercaya dan akurat.
Bagaimana karakteristik perantauan dari negeri Tiongkok yang menetap di Kalbar?
Umumnya para perantauan suku Hakka dari negeri Cina bujangan. Mereka memiliki keahlian seperti pandai besi, keramik, dan lain-lain. Tak jarang dari mereka mempersunting gadis setempat. Bahkan saya bangga sebagai Pang Thong Lah atau Cina-Dayak.
Bisa diceritakan singkat tentang pertambangan emas atau kongsi di Kalimantan Barat?
Pada periode tahun 1772, seorang imigran Tionghoa bernama Lo Fong merupakan perintis dan yang memimpin sekitar 100-an pemuda dari Tiongkok Selatan berlayar menuju ke Nan Yang atau Samudra Selatan dan mendarat di Kalimantan Barat. Tujuannya mengadu nasib dengan mencari pertambangan emas serta membuka hutan untuk dijadikan pertanian dan perkebunan. Dia menyusuri sepanjang Sungai Peniti menuju ke Desa Mandor, Kabupaten Pontianak dan akhirnya menemukan deposit tambang pasir emas di tanah Mandor dan membentuk Lang Dong Kung Sie atau perusahaan Lang Fong.
Benarkah perkumpulan atau kongsi pertambangan emas saat itu sudah menerapkan sistem demokratis?
Ya, berbeda dengan sistem di negeri Cina yang bersifat monarki pada masa tersebut. Pemimpin kongsi saat itu harus dipilih secara demokratis dengan pendukung terbanyak sebagai syarat utama. Pemimpin tertinggi harus orang dari etnis suku Hakka, asal Kampung Ka Jin Ciu, Mei Shien, Provinsi Kwang Tung. Karena lebih menjamin kesetiaan dan kekerabatan dari orang sekampung mengingat pernah trauma dengan pengkhianatan dalam bekerja dengan orang yang tidak satu daerah.
Berapa jumlah kongsi penambangan emas pada masa itu?
Banyak kongsi-kongsi penambangan emas khususnya di pantai utara yang mendapat perlindungan dari Kesultanan Sambas dan beroperasi di Tjapkala, Sungai Duri, Koelor, dan Monterado yang paling banyak, terkenal dan tercatat oleh pemerintah Kolonial Belanda ada total 16 kongsi, di antaranya Dagang Kongsi, Kengwei Kongsi, Santiaogow Kongsi, dan Xinbafen Kongsi.
Bisa Anda sebutkan kelemahan kongsi ini sehingga hanya tinggal cerita saat ini?
Tentu selama seratus tahun lebih berjalannya kongsi-kongsi ini terjadi persaingan dan intrik di antara mereka untuk memperbesar kongsinya dan hanya yang bisa memelihara hubungan baik yang kompleks dengan pengusaha setempat, yang bisa bertahan. Tetapi akhirnya semua kongsi ini berakhir juga di tangan kolonial Belanda yang sukses menerapkan politik pecah belah sehingga penambangan emas semua dikuasai sepenuhnya oleh penguasa Belanda. Hal ini dapat dipahami jangan menghadapi kongsi sedangkan kesultanan di bumi Nusantara umumnya rontok diobok-obok dengan sistem politik pemecah belah persatuan ini.
Pelajaran yang dapat dipetik dari akhir cerita kongsi?
Inilah yang mungkin kurang disadari bersama bahwa sampai di alam kemerdekaan ini, masih terasa eksisnya aroma politik pemecah belah yang membelenggu kehidupan keseharian masyarakat kita. Misalnya apakah kita sadar masih banyak produk hukum warisan Belanda yang mengelaskan menurut golongan yang ditentukan pemerintah kolonial yang masih kita pakai di masa sekarang. Stereotip yang distempelkan ke kita di masa kolonial itu masih juga melekat dalam ingatan bersama kita dan diwariskan terus-menerus. Sehingga masih banyak masyarakat kita yang belum merdeka berpikir. Celakanya kalau sampai birokrat pengambil keputusan yang begitu, jadi kapan kita bisa kompak bersatu membangun dalam indahnya kebhinnekaan kita?
Apakah semua warisan penjajah buruk?
Memang tidak semua yang diwariskan kolonial jelek, khususnya sistem manajemen pemerintahan. Terbukti arsip-arsip mereka tentang Indonesia masa lalu masih tersimpan dengan baik di Belanda sana, di antaranya adalah pada sistem penataan kota yang terencana baik dan berwawasan lingkungan setempat, menggaji para pegawai negeri yang lebih dari cukup untuk mencegah korupsi.
Pandangan Bapak terhadap negara Indonesia?
Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah harga mati.
Meski sudah berusia 70-an tahun, Anda tampak sehat. Boleh dibagikan untuk pembaca?
Bekerja keras dan selalu berdoa. Saya berusaha untuk terus membaca dan melibatkan diri dalam kegiatan-kegiatan sosial. Ke depan, saya optimis Indonesia lebih baik.
Profil XF Asali
Nama: Liu Sau Fat/XF Asali
Tempat dan tanggal lahir: 18 Mei 1932 berdasarkan penanggalan Imlek
Pendidikan:
  • Mandarin di Ai Chiun School di Pemangkat (1938-1941)
  • NanHoa School di Koelor (1942-1945)
  • Belanda Vervolg Hollands Chinese Scholl di Singkawang (1946-1950)
  • Vier-jarige-Richting Handelsschool tamat 1954
Pekerjaan:
  • Kerani sejak 1954-1970
  • Berwiraswasta di bidang ekspor impor sejak 1971
Hobi: Membaca, menulis, olahraga jogging, berorganisasi sosial dan dunia pendidikan
Keturunan: Lima anak dan 11 cucu