Selamat Tahun Baru

Tuan Mahaguru Kongzi atau Khongcu (dialek Hokian), merupakan nabi terakhir dalam agama Konghucu. Ia lahir tanggal 27, bulan 8, tahun 1 Imlek atau 551 Sebelum Masehi (SM).

Sebagai bukti kebesaran Kongzi atau Khongcu, tahun pertama dari penanggalan Imlek dihitung sejak tahun kelahirannya. Padahal penanggalan Imlek diciptakan pada zaman Kaisar Huang Di, 2698-2598 Sebelum Masehi (SM) dan telah digunakan sejak Dinasti Xia berkuasa sekitar tahun 2205-1766 SM. Ini penghormatan Dinasti Han (206 SM-220 Masehi) kepadanya.

Selain mengajarkan kebaikan, sejarah mencatat Nabi Kongzi juga mahir di pemerintahan, kebaikan untuk semua dalam Kebersamaan Agung bagi penduduk Negeri Lu, saat beliau menjabat Menteri Kehakiman, merangkap jabatan sebagai Perdana Menteri Negeri Lu. Hanya dalam waktu tiga bulan lamanya, Negeri Lu mencapai kemajuan yang luar biasa. Semua berdasarkan ajaran agama dan moral Khonghucu, sehingga mampu mewujudkan Kebersamaan Agung.

Sebaliknya negeri tetangga, Kerajaan Qi, iri dan khawatir karena Negeri Lu mengalami tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat, stabilitas politik dan keamanan. Para hakim dan jaksa santai karena tidak ada yang berperkara, penjara kosong tidak berpenghuni.

Maka atas prakarsa Li Chu, salah seorang Pembesar Negeri Qi, dikirimkan 80 orang penari yang cantik sebagai persembahan kepada Lu Ding Gong, Raja Muda Negeri Lu (tahun 509-495 SM). Peristiwa tersebut terjadi pada tahun 496 SM.

Akibatnya Raja Muda Negeri Lu, Lu Ding Gong, dan para pembesar larut dalam pesta-pora setiap hari. Bahkan pernah tiga hari berturut-turut sidang di istana ditiadakan dan tidak melakukan sembahyang.

Nabi Kong Zi melihat keadaan yang runyam ini dan menyadari Kebersamaan Agung yang telah terbina susah untuk dipertahankan, sehingga meninggalkan Negeri Lu mengembara ke empat penjuru negeri menyebarkan ajaran dan mewartakan Firman Tuhan selama 13 tahun lamanya, yang mana banyak pengikut dari empat penjuru negeri.

Dengan penuh kerendahan hati Nabi Kong Zi bersabda, “Aku hanya meneruskan, tidak mencipta. Aku sangat menaruh percaya dan suka kepada ajaran kebaikan dan kitab-kitab kebaikan di masa silam.” (Sabda Suci Jilid VII ayat 1).

Guna mewujudkan dan membina Kebersamaan Agung, bagi setiap insan Umat Khonghucu wajib membina diri, sesuai dengan Firman Tuhan dan benih-benih kebajikan yang ada dalam diri tiap insan. Dengan menekuni ajaran agama dan mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Senantiasa membina hubungan yang harmonis dengan sesama, menghayati di empat penjuru lautan semua manusia adalah saudara.

Sesungguhnya bukanlah hal yang sulit, sebagai contoh, tidak membuang sampah sembarangan, apalagi membuang sampah ke dalam saluran air. Mencegah eksploitasi alam yang berlebihan, penggundulan hutan, yang mana mengakibatkan banjir bandang, tanah longsor, dan bencana bagi masyarakat. Ataupun corat-coret tembok, guna kepentingan individu sampai merusak fasilitas umum, yang kadang-kadang hanya perbuatan iseng, tidaklah berpikir bahwa orang lain juga memerlukannya. Sopan santun dan tertib berlalu lintas, sehingga tidak menimbulkan kemacetan di jalan raya, yang jelas merugikan pengguna jalan termasuk diri sendiri. *