Budaya Hidup Bersih dan Ancaman Penyakit Difteri

Selama ini HIV/AIDS dikenal sebagai hal mematikan, disusul ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Ternyata tanpa disadari masih ada penyakit yang tampaknya saja ringan dan sering diremehkan, padahal sering membawa kematian mendadak.

Penyakit itu bernama difteri atau infeksi yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphtheriae. Penderitanya merasakan sakit tenggorokan, demam, kelenjar bengkak, lemas, dan jantung berdetak cepat.

Racun yang menginfeksi jaringan di daerah hidung dan tenggorokan menghasilkan membaran putih keabu-abuan, atau biasa disebut dahak atau ingus yang menghambat pernapasan. Dalam tahap akut merusak jantung, ginjal, dan sistem saraf hingga membawa pada kematian.

Yang mencemaskan adalah penularannya begitu mudah pada daerah saluran pernapasan bagian atas. Bisa melalui percikan ludah, dari orang yang membawa kuman itu maupun melalui benda atau makanan. Pada umumnya, batuk yang disertai gejala-gejala penyakit ini tidak terlalu mendapat perhatian. Para orang tua biasanya menganggap biasa karena sering diidentikkan dengan pilek atau influenza.

Sangat tepat upaya antisipasi yang dilakukan pihak SDN 23 Pontianak Barat bekerja sama Dinkes Kota Pontianak yang menyelenggarakan imunisasi dan obat-obatan gratis. Langkah tersebut setelah ditemukan dua siswa di sekolah itu yang meninggal dunia diduga serangan penyakit difteri.

Program seperti itu patut mendapat apresiasi agar sekolah lainnya mewaspadai serangan penyakit mematikan. Tindakan preventif sangat penting. Apalagi di sekolah yang menjadi lokasi dengan tingkat interaksi tinggi antarpelajar dan guru. Tentu saja akan memudahkan penyebaran secara sporadis.

Boleh juga hal kecil yang ringan untuk dikerjakan mulai disosialisasikan tentang budaya hidup bersih. Senantiasa membawa sapu tangan atau misalnya. Jika batuk atau bersin hendaknya ditutup. Tidak sembarang membuang ingus, tidak seenaknya meludah atau membiasakan mencuci tangan menggunakan sabun antikuman yang terdapat kandungan antiseptiknya.

Hal mendasar bagi sekolah, menyediakan sarana memadai di antaranya penyediaan air leding atau bak penampungan air bersih, kakus dan sarana pelengkap lainnya. Selain itu melakukan kontrol dan kerja sama dengan pengelola kantin sekolah agar makanan dan minuman tetap terjaga higienis.

Tidak ada salahnya juga menempelkan pengumuman sebagai bentuk imbauan atau anjuran bagi siswa dan pihak sekolah untuk membiasakan hidup bersih. Jadi, bukan hanya tulisan “buanglah sampah pada tempatnya”, tetapi bentuk imbauan lainnya untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan penyakit mematikan. ***