Hujan deras yang terjadi selama beberapa hari di Kota Pontianak memang cukup memberikan kesejukan. Udara panas yang menyengat kulit setidaknya bisa sedikit berkurang.
Tapi hujan yang terjadi di Kota Pontianak tidak membuat kualitas air bersih yang mengalir ke konsumen lebih baik. Air yang mengalir tetap saja sedikit asin alias payau. Malah memaksa air bersih yang setiap hari mengalir tersendat.
Mandeknya produksi air bersih tentu saja diakibatkan intrusi air laut dari muara Sungai Kapuas. Sehingga membuat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak tidak bisa berproduksi selama 24 jam.
PDAM tidak mungkin memaksakan diri memproduksi air bersih dari bahan baku yang tidak layak lagi diolah untuk kemudian disalurkan pada konsumen. Memang untuk mengurangi kadar garam bahan baku yang diolah, PDAM bisa menyedot persediaan air tawar dari situ penempat di Kabupaten Kubu Raya yang berjarak sekitar 26 kilometer.
Jika penempat di kabupaten tetangga berfungsi maksimal, setidaknya selama tiga bulan ke depan bisa mengatasi masa kritis air bersih. Kalau lebih, sudah pasti persediaan air tawar di sana akan habis.
Namun realitasnya, penempat yang dibangun menggunakan dana pemerintah pusat ternyata masih belum bisa difungsikan secara maksimal. PDAM masih harus mendistribusikan air payau pada konsumen. Langkah itu terpaksa diambil ketimbang tidak ada sedikit pun pasokan air bersih.
Mafhum saja, sebagai kota berkembang di Indonesia, air bersih sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Posisi air bersih sejajar dengan sembilan bahan pokok (sembako) dan listrik.
Bahkan Walikota Pontianak H Sutarmidji SH MHum harus bolak-balik seperti setrika mengontrol produksi air bersih di PDAM Jalan Imam Bonjol. Tujuannya memastikan PDAM tetap bisa mendistribusikan air bersih bagi masyarakat Kota Pontianak.
Memang PDAM bisa menempuh jalan lain untuk mengatasi air yang payau diolah menjadi air tawar. Tapi tetap saja biaya yang dibutuhkan mahal. Sebab untuk mengolah air tawar bagi 70 ribu pelanggan dibutuhkan biaya yang tidak kecil.
Sebab biaya produksi air asin menjadi air tawar satu meter kubiknya mencapai Rp 60 ribu, sudah pasti banyak yang tidak setuju. Apalagi kalau harga per meter kubik Rp 60 ribu. Mengingat biaya produksi air bersih yang dilakukan PDAM Kota Pontianak hanya Rp 3 ribu per meter kubik.
Tentunya kita semua berharap hujan di Kota Pontianak juga terjadi di perhuluan. Sebab hujan di hulu bisa mengatasi intrusi air laut yang terjadi selama ini. Karena hanya dengan begitu, krisis air bersih yang selama ini terjadi bisa diatasi. (*)
