Singkawang – Masyarakat Semelagi Kecil Hulu dikagetkan datangnya banjir secara tiba-tiba akibat tanggul Sungai Pinang jebol, Senin (2/1) pagi. Sekitar 24 rumah warga terendam. Jumlah itu kemungkinan bertambah dengan kondisi air yang semakin meninggi.
“Tidak diketahui pasti kapan tanggulnya jebol, karena lokasinya jauh dari pemukiman penduduk. Warga mengetahui jebolnya tanggul itu Senin pagi. Lalu Senin malam sekitar pukul 10, tinggi air sudah sampai ke lantai rumah,” kata Mansyur, salah seorang warga ditemui Equator di kediamannya, Selasa (3/1).
Karena air semakin meninggi, Mansyur terpaksa membuat lantai darurat di dalam rumahnya. Lantai yang dibangun lebih tinggi dari lantai sebenarnya itu disebutkannya “pantai” rumah, untuk tidur dan menyelamatkan barang-barangnya agar tidak terendam.
Tetapi, pantai rumah yang dibangun Mansyur semakin dekat dengan permukaan air, karena air semakin meninggi. Di dalamnya rumah saja, air sudah setinggi lutut orang dewasa.
Rumah Mansyur hanya salah satu tempat tinggal warga yang digenangi air, masih banyak rumah lainnya yang juga terendam, terutama di RT10/RW5 Semelagi Kecil Hulu, Kecamatan Singkawang Utara.
Menurut Ketua RT10/RW5, Syamsudin, hingga kemarin siang, 24 rumah warganya yang terendam air. Belum termasuk RT lainnya seperti di Rt 8, 9 dan 11. “Rencananya kami akan membuat tempat pengungsian di depan,” katanya seraya menunjuk depan rumahnya yang tidak banjir.
Selain rumah warga yang terus-menerus dimasuki air, sekitar 22 hektare atau sekitar 120 borong padi di sawah sudah tenggelam. Padahal padi warga itu akan dipanen dua bulan lagi. Sementara ruas jalan sudah kelihatan seperti sungai baru yang menyusahkan para penggunanya.
Bangunan lainnya juga mulai terendam, seperti kandang-kandang ternak. Bahkan salah satu kandang berisi sapi sudah diungsikan dari tempatnya, karena kandangnya sudah tidak bisa digunakan.
Demikian pula Kantor Kelurahan Semelagi Kecil. Barang-barang terpaksa harus dinaikkan di atas meja. Paling parah di halamannya, tinggi air melebihi lutut orang dewasa. Kendati demikian petugas masih memberikan pelayanan kepada warga yang membutuhkan.
Lurah Semelagi Kecil, Aini ketika ditemui sedang meninjau lokasi banjir mengatakan, peristiwa jebolnya tanggul Sungai Pinang itu sudah disampaikan ke instansi terkait. Kemungkinan para petugas sudah meninjaunya. “Selama tiga tahun ini (banjir terakhir 2008, red) tidak pernah banjir, karena kondisi tanggulnya baik,” katanya.
Tim Tanggap Bencana (Tagana) Singkawang sudah mulai membangun posko darurat, termasuk mempersiapkan dapur umum. Apalagi evakuasi warga dilakukan, bantuan berupa makanan dan obat-obatan akan segera didatangkan.
Menurut Bendahara Tagana, Nanak, pagi kemarin timnya telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk membangun Posko. “Peralatannya kita siapkan dulu, kalau evakuasi sudah dilakukan, baru kita lapor untuk minta didatangkan bantuan makanan dan obat-obatan,” katanya.
Hingga kemarin siang, belum satu kepala keluarga pun yang dievakuasi. Tetapi sangat dimungkinkan akan segera diungsikan, mengingat air terus meninggi karena tanggul yang jebol belum ditutup.
Akibat bencana tersebut, belum dapat dipastikan kerugian yang ditimbulkan. Tetapi diprediksikan kerugian mencapai puluhan juta rupiah, mengingat untuk kerugian akibat padi sawah yang terendam mencapai minimal sekitar Rp 21 juta.
Perinciannya, untuk mengelola padi di atas satu hektare lahan membutuhkan dana minimal Rp 960 ribu termasuk untuk perawatannya. Sementara lahan sawah yang sudah terendam di Semelagi Kecil Hulu khususnya RT10 mencapai 22 hektare.
Semuanya padi warga itu dipastikan tidak bisa dipanen. Padahal bibit yang digunakan sudah dapat dipanen dalam empat bulan. Tetapi baru dua bulan berjalan, padi tersebut sudah terendam. (dik)

