Singkawang – Pawai dukun yang kerasukan roh memang dinantikan para pengunjung dan penggembira Capgome 2563 Kota Singkawang. Sementara Kota Pontianak dengan tujuh naga serta Festival Budaya Nusantara.
Sebelum berarakan, foto-foto tatung mengundang kekaguman para wisatawan domestik dan mancanegara melihat foto-foto yang dipamerkan dalam Rumah Lampion.
“Sudah tidak sabar rasanya ingin melihat atraksi ratusan tatung waktu Capgome nanti,” kata Veronika, warga Pontianak yang ditemui bersama rekan-rekannya ketika melihat foto-foto atraksi tatung dalam Rumah Lampion di Stadion Kridasana Singkawang, kemarin (29/1).
Veronika yang menginap di rumah keluarganya di Singkawang ini mengatakan sangat tertarik dengan atraksi tatung. “Makanya kita suka melihat foto-foto ini, selain sebagai ritual Capgome, juga ada seni yang ditampilkan para tatung itu,” ujar seraya nunjuk beberapa foto tatung.
Veronica mengaku daya tarik utama dalam Capgome di Singkawang adalah atraksi tatung. Apalagi tatung yang tampil 6 Februari nanti mencapai ratusan orang. Sebelumnya, pada puncak Festival Imlek dan Capgome 2563 di Singkawang, diproyeksikan 750 tatung akan beratraksi. Mengenai tata tertib atraksinya sudah disosialisasikan jauh-jauh hari.
Tujuh naga
Seperti tahun sebelumnya, Capgome di Kota Pontianak tanpa atraksi tatung. Andalannya selain tujuh naga bersinar juga Festival Budaya Nusantara. Kota Pontianak yang disebut Walikota Sutarmidji SH MHum, lebih kepada keberagaman yang indah dengan paduan multietnis.
Sutarmidji mengharapkan segenap warga dapat menumbuhkembangkan akar budaya apa pun dan saling toleransi dalam melaksanakan keyakinannya masing-masing. “Mari kita tingkatkan rasa saling toleransi,” ucapnya pada acara Imlek Bersama di Hotel Aston, kemarin malam.
Wakil Gubernur Kalbar Drs Christiandy Sanjaya SE MM mengatakan keanekaragaman suku bangsa, agama jangan dipersoalkan secara berlebihan. Potensi-potensi dalam perbedaan ini harus dijadikan sebagai sebuah kekuatan dalam membangun bangsa ini. “Jangan jadikan perbedaan ini sebagai sumber pertikaian, sumber perkelahian. Kita harus bersatu membangun bangsa ini,” katanya.
Dia mencontohkan yang telah dilakukan Yayasan Bhakti Suci (YBS) saat ini dapat mengoordinasi masalah-masalah sosial menjadi kebersamaan. YBS dapat peran membangun keterpinggiran warga tanpa memilah keturunan dan etnis, termasuk warga Tionghoa yang hidup dalam kemiskinan. Dalam memberdayakan warga miskin tidak sepenuhnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Mengatasi kemiskinan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tanggung jawab kita bersama. Melalui YBS saya harap dapat menyentuh warga yang hidup dalam kemiskinan, khususnya warga Tionghoa,” harap Christiandy.
Seperti diketahui, ada tujuh naga yang siap memeriahkan Cap Go Me, semuanya milik yayasan pemadam kebakaran (YPK). Bahkan, pada acara Budaya Nusantara ada berbagai atraksi hampir semua etnis yang ada di kota ini.
Ketujuh naga itu, masing-masing dari YPK Panca Bhakti, YPK Budi Pekerti, YPK Khatulistiwa, YPK Merdeka, YPK Siaga, dan YPK BPAS Siantan, serta satu naga dari Yayasan Bhakti Suci. (jul/dik)

