Sungai Raya – Terkelupasnya landasan pacu Bandara Supadio bakal terulang bila perawatan kurang memadai. Dana APBN 2012 yang dikucurkan untuk melapis runway hanya sekitar Rp 7 miliar.
“Kalau anggaran perawatan runway Supadio dari APBN hanya Rp 7 miliar, untuk perawatan sepenuhnya diserahkan langsung kepada PT Angkasa Pura,” ujar DL Denni, Kepala Dinas Perhubungan Kalbar menjawab Equator, kemarin
Di tengah begitu sibuknya penerbangan Jakarta-Pontianak-Jakarta pekan-pekan ini, Bandara Supadio lumpuh selama 5 jam dan ratusan penumpang dari Jakarta sempat tidak terangkut. Kondisi menyedihkan ini persis saat terminal akan dibangun tetapi runway tidak digubris pelebaran dan perpanjangannya (baca Equator 2/2; Bandara Supadio Dibenahi, Runway Statis).
Bandara Supadio terpaksa ditutup, Sabtu (4/2) sekitar pukul 14.30 WIB akibat landasan pacu terkelupas sedalam 10 sentimeter dengan diameter 2,7 meter. Titik terkelupasnya pada Runway 15, sebelah kiri, sekitar 740 meter dari ujung landasan
Baru pada pukul 20.00 dibuka kembali. Sedikitnya 500-an penumpang asal Jakarta yang menggunakan Lion Air dan Batavia Air terpaksa terbang kembali ke Soekarno-Hatta karena tidak bisa mendarat. Lumpuhnya bandara memang memalukan.
GM PT Angkasa Pura II Pontianak Normal Sinaga mengaku terpaksa menutup sementara semua rute penerbangan karena tidak ingin mengambil risiko kecelakaan. “Permukaan aspal yang terkelupas di landasan pacu, meskipun tidak besar, namun membahayakan jika dilalui pesawat. Baik ketika mendarat maupun lepas landas. Kerusakan diketahui sore hari dan langsung diperbaiki petugas,” jelas Normal kepada Equator.
Normal Sinaga mengakui terkelupasnya landasan pacu bukan sekali ini. Kata dia akibat tingginya intensitas penerbangan dan pengaruh cuaca panas. “Atas kejadian ini, kita minta pemerintah memerhatikan usulan untuk memperluas landasan pacu, agar insiden serupa tidak kembali berulang. Sebelumnya kami minta maaf atas insiden ini yang memang sudah kedua kalinya,” kata Normal.
Anggota Komisi C DPRD Kalbar Andi Aswad menyesalkan insiden terkelupasnya landasan pacu, bak wajah terkena sinar matahari. “Ini sangat miris, tidak tahu kesalahan ada di mana. Yang pasti pemerintah pusat dan DPR RI Dapil Kalbar harus memperjuangkan anggaran Supadio,” kata legislator asal Kapuas Hulu itu.
Salah seorang penumpang, Antonius Situmorang yang anggota DPRD Kalbar juga sangat menyayangkan kejadian tersebut. Dia bersama dua anggota dewan lainnya, Miftahul Ulum dan Martinus Sudarno terpaksa kembali ke Jakarta.
“Kami dari Jakarta sekitar pukul 16.00 dan tiba di Pontianak sekitar pukul 17.00, namun terpaksa harus kembali ke Jakarta karena sesuai informasi diketahui ketika berada di dalam pesawat,” ungkapnya kepada Equator, Minggu (5/2).
Bersama puluhan penumpang lainnya menunggu di Soekarno-Hatta selama beberapa jam, hingga pemberitahuan bandara dibuka oleh pihak Angkasa Pura II Pontianak. “Kami kemudian berangkat kembali sekitar 19.00,” jelas Ketua Fraksi Gerindra Sejahtera Baru ini.
Minta maaf
PT Angkasa Pura II (Persero) melalui konferensi pers mengumumkan penutupan bandara. “Sesuai dengan Notam yang kami keluarkan, penutupan Bandara Supadio kami lakukan antara pukul 15.50 hingga pukul 19.00. Pekerjaan perbaikan dapat kami selesaikan pada pukul 18.40. Kami atas nama manajemen memohon maaf yang seluas-luasnya,” jelas Direktur Operasi dan Teknik PT Angkasa Pura II Salahudin Rafi.
Landasan pacu Bandara Supadio memenuhi persyaratan laik operasi. Di sisi lain, untuk menambah faktor keselamatan, penambahan lebar landasan pun telah dilakukan, dari 30 meter menjadi 45 meter. Sehingga saat ini, ukuran landasan pacu Bandara Supadio adalah 45 x 2.250 meter.
“Dengan ukuran yang ada, serta didukung tingkat kekuatan dan kekerasan landasan, pesawat-pesawat berbadan lebar jenis Boeing 737 seri 200 dan 500 diizinkan oleh regulator untuk beroperasi di Bandara Supadio. Bahkan yang di atas jenis itu pun masih diizinkan dengan syarat menyesuaikan bobot maksimal untuk take-off maupun landing,” jelasnya.
Salahudin Rafi juga menyalahkan cuaca ekstrem diiringi intensitas curah hujan tinggi terus-menerus dalam durasi yang panjang belakangan ini. Akibat memengaruhi tingkat kekerasan dan daya tahan lapisan permukaan landasan pacu yang berbahan asphalt beton (hot mix) maupun struktur dasar landasan yang awalnya adalah lahan gambut.
“Luasnya landasan yang didukung penetrasi air terhadap lapisan permukaan landasan cukup besar, sehingga mengakibatkan rusaknya lapis perekat antarlapisan perkerasan pada landasan. Kondisi ini yang mengakibatkan terkelupasnya lapisan perkerasan,” paparnya.
Katanya, PT Angkasa Pura II menganggarkan dana perawatan rutin Rp 800 juta hingga Rp 1 miliar per tahun. Dialokasikan untuk perawatan landasan meliputi penebalan lapisan permukaan (overlay), penghilangan rubber deposit, perbaikan weak spot atau perbaikan terhadap kerusakan pada titik-titik tertentu landasan, serta perawatan taxiway dan apron. Pada 2012, perseroan mengalokasikan dana sedikitnya Rp 818 juta untuk kebutuhan rutin.
“Khusus untuk pembangunan landasan baru, estimasi anggarannya mencapai Rp 700 miliar. Saat ini, pematangan lahannya sudah mulai dilakukan oleh Satuan Kerja Kementerian Perhubungan,” ungkap Salahudin.
Bandara Supadio akan memiliki bangunan terminal baru dengan konsep modern dan ramah lingkungan yang akan berdiri di atas lahan seluas 32.000 m2.
Batal landing
Seperti diketahui kemarin, pesawat pertama yang batal landing adalah Lion Air tujuan Jakarta-Pontianak. Pesawat akhirnya dialihkan mendarat di Palembang.
Kepala Divisi Operasi Penerbangan Bandara Supadio Syarif Usmulyani membenarkan bahwa landasan pacu Bandara Supadio terkelupas akibat tidak mampu menahan beban pesawat yang setiap harinya selalu padat.
“Memang jebol. Kerusakannya baru kita ketahui sekitar pukul 14.30 WIB. Sehingga pihaknya terpaksa mengambil sikap menutup jam operasi bandara. Dan tim kita langsung bekerja memperbaiki landasan yang terkelupas secara permanen,” katanya.
Akibat jebolnya landasan pacu, beberapa maskapai yang rencananya terbang pada sore hari terpaksa menunda keberangkatan. Mereka adalah maskapai Batavia, Kalstar, dan Garuda tujuan Jakarta. Ada juga pesawat Trigana tujuan Ketapang-Pontianak menunda keberangkatan.
Pesawat yang terpaksa kembali melakukan base return ke Cengkareng adalah Lion Air dan Batavia Air. Para pilot memutuskan kembali setelah diberitahukan kondisi landasan pacu bandara Supadio Pontianak hingga butuh perbaikan beberapa jam ke depannya.
Dan setelah timnya bekerja secara maksimal, pukul 19.00 WIB, penerbangan sudah normal kembali. “Kita akan menanggulangi keberangkatan penumpang, baik yang datang atau berangkat hingga pukul 01.00 dini hari,” pungkasnya. (dna/oen)

