Dokter Kita Numpuk di Kota

Kalbar Butuh 100 Spesialis Lagi

Pontianak – Kalimantan Barat butuh sedikitnya 1.000 dokter umum lagi untuk melayani rumah sakit yang ada termasuk puskesmas. Saat ini, kita masih kekurangan sekitar 600 dokter untuk melayani 4,39 juta penduduk.

“Idealnya, untuk 100.000 penduduk harus dilayani 30 dokter umum. Sedangkan enam dokter spesialis laiknya melayani 100.000 penduduk,” ungkap dr Andy Jap Mkes menjawab Equator, Rabu (8/2) seusai melepas 24 dokter baru ke Singkawang.

Kemarin, 21 dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan tiga dokter jebolan Universitas Tanjungpura ditempatkan untuk menjalankan program internship di RSUD Abdul Azis dan dua puskesmas yang ada di Kota Singkawang.

Kendati 2013-2014 Indonesia menghasilkan 8.000-12.000 dokter dari berbagai fakultas kedokteran yang ada, namun kondisi pelayanan kesehatan di Kalbar masih jauh dari cukup akan ketersediaan dokter umum dan spesialis.

“Jadi Kalbar masih kurang sekitar 500 dokter umum lagi dan sedikitnya 100 dokter spesialis. Saat ini spesialis yang ada baru 183 orang saja yang bertugas di seluruh kabupaten. Dan dokter kita menumpuk di Kota Pontianak dan Singkawang,” ungkap Andy Jap.

Singkat kata, dokter umum di Kota Pontianak dan Singkawang masing-masing 20 persen. Yang 60 persen selebihnya menyebar di 12 kabupaten se-Kalbar. Hanya satu atau dua orang saja spesialis yang berpraktik di ibukota kabupaten.

Kabupaten Sambas misalnya, termasuk daerah yang lumayan pelayanan dokternya. Dari 27 puskesmas yang ada, baru 20 dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) yang sudah ditempatkan. “Ke depan harus diusulkan kembali guna menunjang program Pemkab Sambas memberikan pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya di wilayah perbatasan,” tutur Ardias, Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, kemarin.

Beruntunglah, di pesisir utara Kalbar ini sudah ada 19 dokter PNS di 19 puskesmas, kekurangannya diisi oleh dokter PTT. “Ada enam dokter spesialis di Kabupaten Sambas. Di antaranya spesialis bedah, telinga hidung dan tenggorokan (THT), spesialis jantung, penyakit dalam (internis), kandungan, dan dokter spesialis anak,” rincinya.

Menurut Kadis Kesehatan Sambas dr Ketut Sukarja, tidak lama lagi di kabupaten yang dipimpin oleh dokter perempuan itu akan kedatangan tiga dokter spesialis lagi yakni THT, jantung. dan saraf.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar Andi Jap mengatakan penerapan program internship kali kedua di Kalbar ini sangat membantu akan kebutuhan dokter umum yang saat ini masih menjadi kebutuhan.

Peluang dokter

Benarkah dokter spesialis sulit masuk ke Kalbar khususnya Kota Pontianak lantaran ribet dan berbelit-belitnya proses di instansi Kesehatan? Tak begitu pasti, namun Kabupaten Sambas dan Kota Singkawang masih terbuka untuk dokter umum.

Selain Singkawang, beberapa kabupaten seperti Kabupaten Pontianak, Sambas, Sanggau, Sintang, dan Ketapang masih berpeluang untuk menerima dokter dari program internship.

“Bahkan Pemkab Sambas menyatakan sanggup memberikan insentif atau tambahan biaya jatah hidup Rp 1 juta per bulan bagi setiap dokter pada penerapan program internship selanjutnya,” ungkap Jap.

Menurut laporan Dinas Kesehatan Tahun 2007, tercatat ada 32 unit puskesmas, 80 unit puskesmas pembantu, 32 unit puskesmas keliling, dan 2 unit balai pengobatan. Sedangkan rumah sakit sebanyak tiga buah, semuanya butuh dokter, sumber daya manusia yang sangat dibutuhkan dunia kesehatan.

Menurut dia, Kabupaten Pontianak masih butuh banyak tenaga kesehatan, khususnya dokter umum, dokter spesialis, dan dokter gigi. Jumlah dokter yang ada saat ini di Kabupaten Pontianak 59 orang, meningkat 22,92 persen dibanding tahun sebelumnya. (dna/edo)