Kendati cuaca kadang masih kurang bersahabat, namun stok beras untuk Kalbar masih relatif aman. Artinya, persiapan untuk 15 hari ke depan menurut Bulog masih mencukupi.
“Berdasarkan data dari Bulog dan Dinas Pertanian, kalau beras di masyarakat katanya aman-aman saja. Persiapan dua minggu ke depan masih ada. Namun secara total katanya kita surplus,” kata Yomin Tofri MA, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar, kepada Equator, Kamis (1/3).
Ia menuding hanya karena naluri pedagang selalu mencari untung besar, saat harga tinggi dikeluarkan. Jika harga turun dia simpan. “Tetapi hitung-hitungan kita masih aman. Cukup besar kok kita kelebihan produksinya. Bulog mengantisipasinya dengan mendatangkan beras dari luar,” paparnya.
Artinya, masyarakat tidak perlu khawatir. Untuk sementara kebutuhan beras untuk di Kalbar masih bisa diantisipasi. Berkenaan dengan di Kalbar kekurangan jagung, hal ini karena jagung sifatnya musiman. Sehingga tidak heran biasanya tiba-tiba-tiba hilang di pasaran. “Sebenarnya hal ini bagus juga. Jika sudah merasa kekurangan artinya yang mengonsumsi jagung semakin banyak,” tutur Yomin.
Kemungkinan ini ada peningkatan di pakan ternak. Karena tingginya permintaan sehingga produksi tidak terpenuhi. Pemerintah harus pandai membaca peluang tersebut dengan menggalakkan produksi jagung pada masyarakat.
Dalam kesempatan itu Yomin mengungkapkan, inflasi yang terjadi di Kota Pontianak pada Februari 2012 sebesar 1,70 persen yang disebabkan kenaikan harga beberapa barang dan jasa berkenaan dengan perayaan tradisi warga Tionghoa yang dilaksanakan setelah perayaan hari raya Imlek yang jatuh pada Februari lalu.
Sepuluh komoditas yang memberikan sumbangan inflasi tertinggi antara lain angkutan udara sebesar 1,2470 persen, daging ayam ras sebesar 0,2826 persen, kembung/gembung sebesar 0,11264 persen, beras sebesar 0,0936 persen, udang basah sebesar 0,0868 persen, kue kering berminyak sebesar 0,0549 persen, ikan tongkol sebesar 0,0457 persen, ikan mayung sebesar 0,0425 persen, ikan bawal sebesar 0,0269 persen, dan upah tukang bukan mandor sebesar 0,0224 persen.
Inflasi yang terjadi pada Februari 2012, kata Yomin, karena adanya kenaikan indeks pada semua kelompok pengeluaran. Ketujuh kelompok pengeluaran tersebut yang mengalami kenaikan indeks yaitu kelompok bahan makanan mengalami kenaikan indeks sebesar 1,03 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,35 persen.
Kemudian, sambung dia, pada kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,23 persen, kelompok sandang sebesar 0,53 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,06 persen, kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga sebesar 0,21 persen, dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 8,37 persen.
Besarnya sumbangan inflasi menurut kelompok pengeluaran yaitu kelompok bahan makanan menyumbang inflasi sebesar 0,2792 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau, sebesar 0,0678 persen, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar sebesar 0,0505 persen, kelompok sandang sebesar 0,0306 persen, kelompok kesehatan sebesar 0,0021 persen, kelompok pendidikan rekreasi dan olahraga sebesar 0,0139 persen dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 1,2470 persen. (kie/jul)
