Menjadi seorang ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya bukan perkara gampang yang dijalani Fauziah Angrum, 51, yang akhirnya menjadi pengusaha yang sukses, keluarga yang berhasil.
“Suami saya meninggal Agustus 1999. Mulanya pasti bingung. Waktu itu empat anak saya yang besar baru kelas dua SMP, nomor dua kelas enam SD, nomor tiga kelas tiga SD, nomor empatnya masih TK. Ternyata ada lagi satu lahir setelah ayahnya tiada,” ungkap Fauziah kepada Equator ditemui di kediamannya, kemarin.
Antara mencari nafkah menghidupi keluarga dan mendidik anak adalah posisi yang sulit. Istri Alm Nawawi, warga Kauman, Kecamatan Benua Kayong, itu akhirnya mampu menghidupi kelima anaknya.
Mulanya kebingungan menerpa Fauziah. Wanita asal Cianjur ini hanyalah seorang ibu rumah tangga, sementara suaminya guru agama yang bukan PNS, tanpa hak pensiun. Meski diakuinya, ketika suaminya masih hidup, ia pernah mencoba usaha pakaian.
“Kebetulan adik saya punya barang-barang dari Jakarta dan Bandung. Jadi dikirim sedikit-sedikit. Waktu itu suami saya masih hidup. Tapi saya pikir waktu itu hanya iseng-iseng saja. Bukan mata pencarian yang betul-betul ditekuni. Karena waktu itu ada suami, jadi tanggung jawab ada di suami,” bebernya.
Ternyata, setelah suami tiada, Fauziah merasa harus banting tulang. Bisnisnya pasang-surut. Tak semua pelanggan membayar kontan. Bahkan ia mengaku sampai saat ini ada yang tidak bayar. Sekitar lima tahun ia jatuh-bangun menjalani usaha itu.
“Karena hasilnya tidak begitu bagus, saya jualan di rumah saja, tidak keliling lagi. Saya pikir-pikir hasilnya tidak memenuhi. Tapi alhamdulillah, lima tahun saya tekuni dapat menguliahkan anak saya yang pertama. Anak kedua juga sudah bisa masuk pesantren,” akunya..
Merasa tak begitu mencukupi karena anak pertama kuliah di Jakarta dan sekarang sudah bekerja di pemda. Anak kedua menamatkan studinya di Bina Sarana Informatika (BSI), sedangkan satunya sedang kuliah di IPDN. Setelah putar otak, ia pun memutuskan untuk mencoba bisnis amplang.
“Saya mengajak beberapa teman untuk kerja di rumah membuat amplang mulai 2004. Modal awal saya pakai modal yang ada. Alhamdulillah bisa jalan,” kata dia.
Tapi tetap saja, awal merintis usaha tersebut tidaklah mudah. Ia mengaku terkadang dalam sebulan membuat amplang, hanya seminggu yang bisa dijual. Sisanya terkadang bentuk amplangnya rusak. Tapi itu tak membuatnya ciut. Ia sadar bahwa dalam merintis, konsumen tak langsung “menerima”. Amplang itu ia titip di toko-toko seputaran Ketapang. Namun setelah lima tahun berjalan, usaha home industry itu mulai menunjukkan hasil. Bahkan saat ini ia mulai merintis bisnis makanan lainnya, seperti somay dan empek-empek.
“Setelah beberapa waktu berjalan dari pihak bank dan lainnya datang menawarkan pinjaman. Akhirnya saya coba dari pinjaman Rp 15 juta sampai Rp 50 juta. Kemarin ada juga yang datang menawarkan pinjaman. Tapi saya pikir dari modal yang ada saya rasa sudah cukup kalau untuk usaha amplang,” terangnya.
Sepintas menjadi single parent memang berat. Tapi dia sudah bertekad dan minta kepada Allah dan hidup apa pun belajar ikhlas untuk menerima.
“Saya minta kepada Allah, cukupkan rezeki, berikan jalan untuk membimbing mereka (anak-anak, red). Alhamdulillah, bisa menafkahi mereka sama dengan anak-anak lain yang masih punya kedua orang tua,” tuturnya.
Ia juga memesankan kepada kelima anaknya untuk terus belajar, menimba ilmu dan ke mana pun mereka mampu. “Walaupun ayah tidak ada, saya selalu mengingatkan selagi Mama bisa, terus saja belajar. Jangan dulu memikirkan saya. Bukan berarti saya tidak mau dibantu. Mungkin suatu saat mereka akan membantu saya,” katanya.
Pengalaman paling berkesan dalam hidup Fauziah saat menentukan pilihan pendidikan anaknya, dihadapkan dengan kemampuan finansial. Bukan hanya harus bekerja keras, juga berpikir keras.
“Ketika anak saya nomor tiga tes kedokteran, Alhamdulillah lulus dan malah ranking satu dari Ketapang. Tapi karena dia berpikir, kalau tidak selesai kita harus mengganti, itu yang menjadi beban buat dia. Jadi dia bilang, sudahlah, Ma, ndak usah. Padahal satu sisi saya tahu anak itu bisa. Walaupun kita tahu itu beasiswa, tapi kita juga harus siap dengan biaya. Sampai akhirnya ia memilih dan lulus tes IPDN,” ungkap Fauziah.
Sukses dunia usaha dan mendidik anak sehingga menghasilkan putra-putri yang membanggakan, Fauziah merasa biasa-biasa saja. Bahkan tak berbeda dengan orang tua lain. Ia juga mengaku tetap berdoa kepada Allah untuk dimudahkan segala urusan.
“Saya gimana ya, sejak awal sudah menelan pil yang paling pahit. Waktu suami meninggal, siapa sih yang ditinggal itu siap. Pasti tidak siap. Dari saat ini saya berdoa, Ya Allah, insya Allah saya siap menerima apa pun ujian maupun musibah yang Engkau berikan. Tolong berikan saya kekuatan dan kesabaran. Jadi sampai sekarang apa pun yang saya hadapi, saya punya Allah,” tegasnya.
Pada momen Hari Kartini ini, Fauziah hanya berharap anak-anaknya dapat mencapai cita-citanya sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Dapat berguna bagi diri, keluarga, agama, dan bangsa.
Ia juga berpesan kepada seluruh ibu-ibu agar tidak patah semangat. Ia mengatakan yakinlah Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan manusia.
“Jangan sekali-kali kita kelihatan lemah di depan anak-anak. Supaya mereka juga tidak patah semangat dan sedih. Jadi sebagai seorang ibu kita harus siap menghadapi apa pun,” pesannya. (KiA)

