Di negeri ini, di tanah ibu pertiwi yang memiliki RA Kartini, peluang bagi kaum perempuan lebih terbuka, diperhitungkan, dan sudah berperan cukup signifikan.
“Gambaran Kartini masa kini adalah sebuah indikator terwujudnya cita-cita dan harapan dari Kartini terdahulu. Sebagai pejuang kaum wanita pada zamannya. Tantangan Kartini sekarang jauh lebih kompleks di era global,” ungkap Misdah kepada Equator, Sabtu (21/4).
Kondisi ini sekaligus merupakan peluang bagi perempuan untuk lebih mampu menunjukkan eksistensinya. Sehingga bisa berperan secara maksimal dalam kehidupan lingkungannya baik pribadi dan sosialnya.
“Sosok wanita yang mampu menjadi penerus Kartini masa kini adalah sosok wanita yang memiliki multiprofil. Dalam artian bahwa dalam kondisi apa pun atau berperan dalam bidang apa pun, wanita itu tetap bisa diandalkan oleh bangsa ini. Baik dalam bidang politik, sosial, ekonomi, dan pendidikan serta peran lainnya,” ujar Misdah yang juga Dosen STAIN Pontianak ini.
Tentu dengan syarat perempuan itu tidak meninggalkan kodratnya baik secara kodrati atau secara kodrat sosial dan agama. “Kita bisa lihat kiprah wanita sekarang dan dahulu pasti berbeda. Dahulu wawasan sangat sederhana dan kesempatan juga terbatas. Perempuan tidak lagi sebagai objek tetapi sudah bisa berperan. Punya peluang mulai dari politik, sosial, ekonomi, pendidikan, bahkan presiden,” jelas ibu dua anak ini.
Fungsi di rumah tangga
Berbicara fungsi, dalam sebuah rumah tangga perempuan itu sebagai pendidik atau tarbiah. Sebagai perempuan dituntut harus lebih cerdas, lebih tinggi ilmunya karena dia disiapkan untuk menjadi pendidik dalam rumahnya sendiri untuk anak-anaknya.
Di lingkungan masyarakat perempuan dinilai lebih ulet. Bukan berarti merendahkan laki-laki. Kiprah untuk mendidik cenderung pada wanita. Karena itu kini banyak perempuan berusaha menambah wawasan, belajar menuntut ilmu setinggi-tingginya. Karena memang peluang itu sangat terbuka lebar.
Banyak pemimpin dari kaum perempuan. Jadi dari segala aspek kehidupan bahwa perempuan menunjukkan kualitasnya yang luar biasa. “Berkenaan dengan wanita karier, sekarang memang masyarakat kita sudah mulai berpikir terbuka tentang persoalan ini,” kata Misdah.
Menurut dia, tidak ada salahnya wanita berkarier selama dia tidak melepaskan kodratnya “Karena dia seorang ibu tentu kodratnya adalah mendidik anak-anaknya,” jelas Misdah yang disapa bunda oleh mahasiswanya.
Perempuan harus punya potensi. Juga berhak untuk punya ambisi yang tidak ambisius. Artinya, berkarier untuk berperan aktif dalam pembangunan mental generasi muda untuk membangun bangsa di segala lini.
Jadi, tidak masalah wanita karier selama mampu mengatur waktunya. Jangan sampai perempuan kemudian berhasil menjadi tokoh di masyarakat tetapi dalam lingkup terkecilnya yaitu keluarga, tidak mampu.
“Itu bisa dikatakan tidak berhasil karena memang wanita karier itu tidak selamanya dia mampu. Hanya orang-orang tertentu yang mampu sukses. Kita tidak ingin ada yang dikorbankan, apalagi anak-anak,” kata single parent dari kedua anaknya.
Persoalan pergaulan anak-anak sekarang tidak lepas dari peran dan tanggung jawab orang tua. Karena lembaga pendidikan seperti sekolah, baik formal maupun nonformal, tidak selamanya bisa menjawab tuntutan atau kebutuhan anak-anak untuk mendapatkan pendidikan moral dan agama. Maksudnya pendidikan itu bermula dari rumah seperti menanamkan disiplin kepada anak, penanaman akhlak dan moral.
“Di zaman global ini, tidak keluar rumah saja anak-anak sudah besar tantangannya, apalagi keluar. Fenomenanya memang ada. Banyak anak-anak terjerumus pada persoalan seks bebas, narkotik, dan lain sebagainya. Tugas kita saat ini adalah bagaimana anak itu diberi benteng atau filter. Filter yang paling ampuh adalah pendidikan agama yang diberikan kepada anak-anak. Ke mana pun dia keluar, era apa pun yang dihadapi, dia akan bisa,” paparnya.
Dampak perkembangan teknologi informasi yang canggih jadi tantangan orang tua. Kasus FB saja, tidak sedikit anak yang terjerumus. Tetapi bukan berarti FB itu satu-satunya penyebab. Tanpa itu saja anak pun mudah terjerumus. Hanya bagaimana orang tua menyikapi FB itu dengan memberi benteng pengertian pada anak-anak.
“Mereka didampingi, karena di situ juga pusat informasi, pusat ilmu, silaturahmi. Jadi yang salah adalah pengendalian dari pengguna itu sendiri terutama anak-anak,” ulasnya.
Untuk mengampanyekan supaya anak-anak tidak terbuai dampak negatif internet, di sekolah perlu bimbingan dengan memberikan tugas positif. Tugas untuk mereka cari di internet sehingga tidak ada peluang anak-anak untuk iseng sendiri. Sekolah harus bisa. Kalau hal itu sudah dilakukan internet bukan lagi hal yang tabu.
Sebagai pendidik Misdah berharap orang tua dan pemerintah itu harus lebih peduli. Jadi pendidikan itu bukan hanya tugas sekolah, melainkan tugas orang tua dan masyarakat tentunya.
“Karena kita lihat sangat efektif pendidikan di lingkungan masyarakat. Bagaimana lembaga yang ada mulai dari keluarga memaksimalkan peran mereka agar anak-anak peduli pada pendidikan seumur hidup (long life education),” katanya.
Dia mengingatkan, agama mengajarkan tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahad. Ini bukan slogan, tetapi harus bisa dipraktikkan. (kie)

