Keberanian Mewujudkan Janji-janji Kemerdekaan

Tutur kata dan sikap Morkes adalah pantulan keberanian yang dihayatinya sejak kecil. Mantan Bupati Ketapang dua periode (2000-2010) itu tahu apa yang bisa dicapai dengan keberanian. Dan apa yang terjadi jika kehidupan dijalani tanpa keberanian.

“Keberanian para pemimpin bangsa yang dulu memerdekakan kita. Keberanian juga yang kita perlukan sekarang untuk mewujudkan janji-janji kemerdekaan itu. Paling tidak di daerah kita sendiri. Tanpa keberanian, kejujuran, dan komitmen untuk bertindak nyata, janji tinggal janji. Tidak akan menjadi nyata,” ungkap Morkes.

Sebagai putra daerah yang lahir, tumbuh, besar, dan mengabdikan diri untuk Kalbar, Morkes Effendi sangat mengenal sosial dan budaya serta kehidupan masyarakat di provinsi yang luasnya sama dengan 1,3 kali Pulau Jawa ini.

Karena itu, untuk mengetahui secara persis harapan masyarakat Kalbar terkini, dia tetap terjun ke tengah ke tengah masyarakat. Menugaskan orang-orang piawai di lingkungan partainya untuk mendengar dan menyerap aspirasinya. Ini telah dilakukan selama Januari-Februari 2012 di 14 kabupaten/kota se-Kalbar.

Morkes menemukan kenyataan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat Kalbar masih rendah dan pendidikan juga tertinggal. Layanan kesehatan belum memadai dan masih banyak daerah yang terisolasi karena pembangunan infrastruktur yang lamban.

“Kita harus berani jujur, bahwa tidak berhasil melawan kemiskinan, tidak sanggup melawan kebodohan. Bagaimana bisa mengharapkan kemakmuran jika masih banyak daerah kita yang tidak memiliki akses jalan yang memadai. Selama lima tahun ini kita tidak merasakan perubahan yang berarti, selain harapan masyarakat yang kian besar untuk perubahan itu,” bebernya.

Morkes tidak bicara mengawang, melainkan telah meninggalkan jejak keberhasilannya membangun Kabupaten Ketapang. Dia berhasil membuka daerah-daerah terisolasi sampai 90 persen selama kepemimpinannya. Tingkat pengangguran turun, kehidupan masyarakat juga tetap harmonis. Tidak pernah terjadi konflik SARA di Ketapang selama kepemimpinannya.

Selama menjadi Bupati Ketapang, dia juga berhasil mendirikan Politeknisk yang telah mencetak lulusan satu angkatan. Pendidikan politeknik ini didasari kebutuhan riil tenaga-tenaga ahli tingkat menengah.

“Kita perlu tenaga menengah yang terampil, karena di Ketapang banyak perkebunan dan pertambangan. Tenaga menengah biasanya datang dari Jawa. Dengan mendirikan politeknik, kita bisa mencetak putra-putra daerah sendiri yang terampil,” jelasnya.

Pembangunan infrastruktur memang menjadi prioritasnya. Dilihat dari masa pemerintahannya di Ketapang, lembaga pendidikan tumbuh pesat. “Dulu SMP itu susah, zaman saya setiap pusat-pusat pengembangan ekonomi di desa-desa dibangun paling tidak satu SMP, dan SMA sudah berdiri di 19 kecamatan dari 20 kecamatan yang ada,” tambahnya.

Luar biasanya, ketika situasi nasional mengalami guncangan pada 1999-2000, pertumbuhan ekonomi turun sampai kisaran 2-4 persen, pertumbuhan ekonomi Ketapang malah meningkat hingga 10 persen. Sementara pertumbuhan ekonomi Provinsi Kalbar hanya kisaran 5-6 persen kala itu. Ini juga terjadi di masa kepemimpinannya sebagai Bupati Ketapang.

Sekarang, masyarakat mengharapkan pengabdiannya di medan yang lebih besar, Provinsi Kalbar. Baginya, harapan masyarakat itu adalah kewajiban yang harus dipenuhi. Lagi-lagi keberaniannyalah yang menjadi tumpuan. Langkah awalnya adalah keberanian untuk bangkit melawan. Ia yakin jika keberanian untuk bangkit dan memikirkan kepentingan bersama saja sudah tidak ada, jangan harap cita-cita bersama dapat terwujud.

“Kini saatnya kita bangkit melawan. Melawan kebodohan, kemiskinan, ketertinggalan, korupsi, dan diskriminasi. Keberhasilan kita mengalahkan semua itu, berarti terwujudnya harapan dan keinginan seluruh masyarakat Kalbar. Inilah perjuangan di alam kemerdekaan dan demokrasi,” tuntasnya. (*KiA)