Waspada Penguatan Identitas

Jalin Kemitraan Menangani Konflik

Diskusi Bermitra dalam Menangani Konflik Komunal/Sosial
Syamsul Arifin
Diskusi membahas penanganan konflik di Mapolda Kalbar

Pontianak – Penanganan konflik membutuhkan peran berbagai pihak. Paling penting, antisipasi bersama dengan tidak mudah terprovokasi, selain kepolisian melakukan penanganan atas permasalahan yang muncul, supaya mampu diredam dan tidak menjadi konflik.

Inilah yang dibahas dalam diskusi yang diselenggarakan Polda Kalbar, Selasa (26/6). Diskusi bertemakan Bermitra dalam Menangani Konflik Komunal/Sosial dihadiri Kapolda Kalbar Brigjen Pol Unggung Cahyono, Kajati Kalbar Jasman Panjaitan, AsKodam XII/TPR Kolonel Johari, Kepala Kesbangpol Kalbar Toni Ferdi, dan Ngusmanto, akademisi Universitas Tanjungpura Pontianak sebagai pembicara.

Toni Ferdi dalam pemaparannya memastikan kondisi Kalbar sepenuhnya kondusif. Hanya saja perlu diwaspadai, penguatan identitas kelompok masyarakat. Terlebih menjelang pemilihan gubernur dan Pilwako Singkawang.

“Patut diwaspadai keberadaan aliran sesat serta mengatasnamakan agama sebagai pembenar dalam bertindak. Sekaligus masalah perkebunan, pertambangan juga dapat memicu timbul konflik di tengah masyarakat,” ungkap Toni.

Kapolda Kalbar Unggung Cahyono mengatakan jajarannya selalu berusaha memaving setiap permasalahan di masyarakat. Supaya tidak menimbulkan konflik. Misalkan masalah perkebunan, diinstruksikan kepada seluruh Kapolres dapat menjadi mediator antara pihak yang bersilang pendapat.

“Maka dari itu, butuh langkah bersama dalam menyelesaikan setiap permasalahan di tengah masyarakat,” ungkap Unggung. Maka kunjungannya ke tokoh masyarakat ketika kali pertama bertugas di Kalbar menjadi bagian meredam konflik. Kapolda meminta dukungan segenap pihak untuk menyelesaikan setiap permasalahan, supaya tidak meluas.

AsKodam XII/TPR Kolonel Johari mengatakan tugas TNI menangani berbagai masalah harus mengacu aturan. Demikian pula dengan penanganan konflik. “Kita mengharapkan masyarakat tidak mudah terprovokasi,” ungkapnya.

Kajati Kalbar Jasman Panjaitan lebih mengarah pada penegakan hukum yang sifatnya mampu memberikan manfaat. Tidak cukup kalau hanya sebatas dianggap berkeadilan. Sedangkan Ngusmanto menyatakan, Untan lebih menekankan pendidikan budi pekerti kepada mahasiswa, dalam upaya menekan secara dini timbulnya konflik di tengah masyarakat. (sul)