Pontianak – Awas, sungai kering disusul air asin, tersendatnya distribusi air bersih akan mengancam Kalbar mulai Juli sebentar lagi. Itu peringatan Klimatologi Siantan Pontianak tentang peralihan ke musim kemarau panjang jelang bulan puasa.
“Tetapi di sebagian besar Kalbar tidak memiliki musim yang jelas. Pengaruh secara global masih dalam kondisi normal, artinya pada bulan-bulan ini kondisi curah hujan di Kalbar masih normal berkisar antara 100 hingga 150 mm,” ungkap Kepala Stasiun Klimatologi Siantan Pontianak, I Wayan Mustika.
Mustika menjelaskan, satu di antara tanda peralihan musim di Kalimantan Barat dapat dilihat dari angin yang biasanya angin musim barat bergeser angin timur. Selain itu, dapat dilihat juga dari perubahan cuaca, misalnya terjadi hujan deras tetapi berlangsung singkat.
“Dengan perubahan cuaca yang begitu cepat perlu diwaspadai berbagai penyakit yang dapat mengganggu kesehatan, seperti kondisi suhu tubuh yang panas-dingin. Itu akibat suhu tubuh belum dapat menyesuaikan dengan perubahan cuaca yang terjadi,” paparnya.
Menurutnya suhu di Kalbar pada musim peralihan ini maksimum antara 33 hingga 35 derajat Celsius dan minimum 22 hingga 24 Celsius juga dikategorikan masih dalam kondisi normal. Pada umumnya, daerah yang cukup tinggi dari permukaan laut seperti Kapuas Hulu memiliki suhu udara lebih dingin dari daerah lainnya yaitu 33 derajat Celsius.
Kata I Wayan Mustika, walaupun sebagian besar wilayah di Kalbar tidak memiliki musim yang jelas, untuk menentukan musim hujan maupun kemarau masih menjadikan satu daerah sebagai acuan. Yakni, Ketapang karena berada di selatan Kalimantan, yang dipengaruhi oleh angin monsoon.
“Dengan adanya perubahan angin monsoon tersebut menyebabkan adanya perbedaan musim antara satu daerah dengan daerah lainnya,” pungkasnya. (dna)

