Pontianak – Kondisi air di kawasan di Kota Pontianak payau. Kadar garam air Sungai Kapuas mencapai 2.600. Konsumen mengeluh, namun Walikota Pontianak H Sutarmidji SH MHum berharap masyarakat Kota Pontianak memaklumi karena kondisi alam.
“Kalau diusahakan bisa saja air asin menjadi air tawar. Tetapi harganya mahal, satu meter kubik Rp 60 ribu, sekarang saja Rp 3 ribu, saya yakin pasti banyak yang tidak setuju, apalagi kalau harga mencapai Rp 60 ribu,” ungkap Sutarmidji.
Dikarenakan kadar garam Sungai Kapuas sangat tinggi, kalau didistribusikan atau dialirkan ke masyarakat airnya payau. Diakui Sutarmidji, pilihan PDAM yang paling tidak nyaman, mengalirkan air payau kepada konsumen.
Walikota menjelaskan, pengadaan air baku merupakan kewajiban pemerintah pusat. Sementara di Pontianak sendiri terdapat di balai sungai, perpanjangan tangan pemerintah pusat. Namun Walikota Pontianak menyayangkan apa yang dikerjakan balai tersebut tidak tampak hasilnya.
“Kita lihat sampai saat ini tidak ada solusi. Kalaupun tidak mampu diserahkan saja ke pemkot. Karena pengadaan air ini kewajiban mereka, kasihan masyarakat Kalbar,” ungkapnya.
Sutarmidji mengungkapkan, kalau kondisi ini sampai berlarut-larut, masalah yang dihadapi saat ini, meskipun kondisi Pontianak hujan, kalau di hulu tak hujan, kondisi air Sungai Kapuas tetap asin. “Jadi kalau hujan turun, tampung saja untuk mencampur air asin,” ujarnya.
Dengan keadaan seperti sekarang, Sutarmidji mengaku setiap hari berkunjung ke PDAM melihat kondisi air. Ternyata produksi air tidak bisa lagi diproduksi 24 jam. Air bakunya tidak memungkinkan untuk diproduksi. “Seandainya 20 hari ke depan belum juga hujan, maka bukan saja daerah hulu yang kekeringan, Sungai Kapuas juga akan kekeringan,” jelasnya.
Sutarmidji juga mengatakan saat ini kondisi air baku di Sungai Kapuas sudah sangat-sangat memprihatinkan. Kemarau saat ini paling parah. Menyebabkan surutnya Sungai Kapuas hingga kering, sehingga PDAM tidak mampu menyedot air.
“Menyedot air harus ke tengah sungai. Kalau ini diletakkan ke tengah akan mengganggu lalu lintas sungai. Akibat dari kondisi tersebut, produksi air sekarang ini tidak bisa lagi memproduksi air 24 jam,” jelas Walikota. (dna)
