Mempawah – Kecelakaan maut Bus Bahagia jurusan Pontianak-Sambas di Jalan Raya Desa Rukmajaya, Kecamatan Sungai Raya Kepulauan menyisakan duka di keluarga Almarhumah Hj Hanonah.
Warga Jalan H Saman, Kecamatan Pemangkat itu tewas seketika ketika kecelakaan terjadi. Begitu mendapat kabar duka, pagi itu menjelang siang, Jumat (6/7), kediaman Hanonah ramai dikunjungi sanak saudara maupun tetangga. Padahal jenazah Hj Hanonah sudah selesai dimakamkan sehari sebelumnya. Sanak keluarga berkumpul sambil membaca koran yang memberitakan bus maut bergambar Manchester United itu.
Marina, adik kandung Hanonah, dan Yulia, salah seorang menantunya, masih larut dalam kesedihan. Kata Yulia, mereka berdua baru tiba di Pontianak 29 Juni lalu.
“Almarhumah Ibu ke Pontianak untuk bertemu adik bungsunya Marina dan anak bungsunya Ilham, suami saya di Gang Kantor Kuala II, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya,” ungkap Yulia.
Dikatakan Yulia, tidak ada tanda-tanda diperlihatkan almarhumah mertuanya yang sangat akrab bersamanya. Hanya saja, sebelum bus nahas itu merenggut nyawa, Hanonah selalu membicarakan akhirat dan bagaimana beribadah yang baik di dunia. “Itu dibicarakan Almarhumah di ruang tengah rumah kami,” jelas Yulia.
Usai salat, Hanonah menyimpan mukenah di lemari Yulia. Dilihatnya banyak tumpukan kain panjang. Percakapan keduanya begitu akrab dan bercanda. “Banyaknya kain kau, Yul. Saya jawab dengan gurauan, inilah, Bu, kain nanti untuk persiapan ke akhirat. Lalu almarhumah menjawab minta aku satu,” tutur Yulia menceritakan dialog terakhirnya dengan sang mertua.
Keesokan paginya Yulia mendapat telepon dari Rudi, abang iparnya, mengatakan Bus Bahagia yang dinaiki ibu mertuanya mengalami kecelakaan. Dipertegas lagi dengan informasi teman adik kandungnya mengabarkan bus tabrakan dengan tronton. “Setelah dicek ternyata itu bus yang ditumpangi mertua saya,” ujar Yulia.
Yulia merasa kehilangan sosok ibu yang penyabar dan penuh kasih sayang. Hanonah berpesan kepada Yulia dan anak-anaknya jangan lupa salat dan memelihara anak dengan baik. Sebelum ke Pontianak, Hanonah, mertuanya, sudah mengunjungi kediaman sanak keluarganya, baik yang berada di Jungkat, Sambas, hingga di tempat tinggalnya di Pemangkat. “Saya tahu itu sewaktu menelepon ibu, menanyakan kabar dan keberadaannya,” jelasnya.
Marina, 45, adik kandung Hanonah berdomisili di Gang Jambu, Kubu Raya menceritakan, Kak Long, sapaan akrab almarhumah selama berbincang selalu menasihatinya. Hanonah meminta agar adiknya rajin-rajin salat, zikir, dan terus beribadah. “Ini selalu disampaikannya saat kami berbincang-bincang, baik saat akan tidur maupun cuci piring. Bahkan Kak Long meminta saya agar tidak jauh-jauh darinya,” cerita Marina sambil meneteskan air mata.
Kecelakaan maut antara bus jurusan Pontianak-Kartiasa dengan tronton di Jalan Raya Sungai Duri, Kabupaten Bengkayang, Kamis (5/7), sekitar pukul 03.00 dini hari menimbulkan luka mendalam bagi keluarga korban. Termasuk empat korban yang dilarikan ke Rumah Sakit Dr Rubini Mempawah.
Keempat korban tersebut: Eko, 31 warga Sungai Adong, Desa Kuala Dua Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Kubu Raya (KKR) yang juga sopir bus nahas itu. Kemudian Mardiyanto, 31, warga Kabupaten Sambas yang juga kernet bus tersebut. Serta dua penumpang, Aisyah, 45, dan satu penumpang lainnya yang belum diketahui namanya lantaran shock berat akibat kecelakaan maut yang merenggut lima korban jiwa.
“Ada empat korban yang dilarikan ke sini (RSUD Dr Rubini Mempawah, red). Dari keempat korban, ada dua korban yang mengalami luka serius,” kata petugas jaga IGD Dr Rubini, Erik Siswanto.
Dijelaskannya, Eko mengalami patah kaki kiri dan luka di sekujur tubuhnya akibat pecahan kaca. Sedangkan korban lainnya, Mardiyanto mengalami bengkak pada bagian kepala akibat benturan.
“Selain sopir, penumpang laki-laki yang belum kita ketahui namanya juga patah kaki kanan. Sementara korban penumpang lain yakni Aisyah hanya dirawat sebentar di IGD lalu diperbolehkan pulang karena tidak ada luka yang serius,” jelas Erik.
Menurut keterangan Eko, kejadian itu bermula ketika bus yang dikendarainya berangkat dari Sungai Adong menuju ke Kartiasa–Sambas. Setiap harinya bus tersebut berangkat pukul 23.00 mengangkut kurang lebih 30 penumpang.
“Cuacanya berkabut dan saya tidak melihat ada truk yang parkir di depan. Saya menyadarinya setelah jarak yang begitu dekat, sehingga kecelakaan itu tidak dapat dihindari. Mungkin ini memang jalan takdir saya,” kata Eko.
Eko mengaku, bus bergambar Manchester United yang dikendarainya itu tidak dalam kecepatan tinggi. Seperti biasa, dirinya memacu bus dengan kecepatan kurang lebih 60 km/jam.
“Silakan tanya sama para penumpang yang ada. Saya tidak pernah laju mengendarai bus. Mungkin ini sudah menjadi jalan nasib saya,” ujar Eko.
Kernet bus, Mardiyanto mengaku tidak mengetahui secara pasti kecelakaan maut tersebut. Kejadiannya begitu cepat dan dia tidak melihat secara jelas.
“Yang rusak itu hanya bagian depan bus saja. Sedangkan bagian belakang tidak mengalami kerusakan. Saya tidak tahu pasti kejadiannya. Karena saat itu ramai orang dan saya tidak bisa berdiri karena kepala terbentur badan bus,” ungkapnya. (shn/edo)

