Pontianak – Menjelang bulan suci Ramadan, stok Bahan Bakar Minyak (BBM) di Kalbar aman. Jaminan itu diutarakan oleh Sales Representative PT Pertamina Wilayah VI Kalbar Jhon Haidir, Kamis (12/7).
“Jika pengiriman BBM tidak terkendala seperti air surut, maka stok BBM akan aman. Sampai saat ini stok BBM untuk se-Kalbar aman,” kata Jhon.
Terkait stok dan konsumsi BBM, untuk Kota Pontianak persediaan premium 3.751,47 KL bisa bertahan hingga 3,9 hari. Minyak tanah 538,20 KL bisa bertahan hingga 16,9 hari. Sedangkan solar 4.855,65 KL bisa bertahan hingga 3,7 hari.
Sedangkan untuk depot di Kabupaten Sintang, stok premium 570 KL bertahan hingga 2,1 hari, minyak tanah 351 KL bertahan 3,5 hari, dan solar 721 KL bertahan 2,1 hari.
“Untuk Ketapang, premium 1.270 KL bertahan 6,3 hari. Minyak tanah 810 KL bertahan hingga 42,6 hari. Solar 1.656 KL bertahan 4,9 hari. Jika dirangkum secara keseluruhan, stok premium untuk Kalimantan Barat 5.591,47 KL bertahan 3,9 hari. Minyak tanah 1.699,20 KL bertahan 11,2 hari. Solar 7.232,65 KL 3,6 hari. Jika tidak ada kendala pengiriman, maka stok akan aman,” jelas Jhon.
Dia mengakui kelangkaan yang sering terjadi pada solar. Hal ini bukan karena berkurangnya pasok dari Pertamina ke SPBU. Tetapi pihaknya menuduh spekulan dan oknum yang ambil kesempatan dalam kesempitan. Inilah yang mengakibatkan antrean yang panjang.
“Selain itu, banyak juga truk yang sampai mengantre berkali-kali. Jika 100 truk mengantre solar hingga 10 kali, tidak heran jika kemacetan terlihat di SPBU. Berapa pun yang saya pasok pasti akan kurang,” jelas Jhon.
Jika ada truk yang mengantre berkali-kali berlanjut, masyarakat pengguna solar dipastikan merugi. Selain harus mengantre berjam-jam bersama para spekulan, hanya ada 12 SPBU yang menjual solar di Kota Pontianak.
Di sisi lain antrean tiada henti itu ada juga masalah penimbunan solar di mana-mana. Ketika ada wacana kenaikan BBM beberapa bulan yang lalu, polisi berhasil membongkar para penimbun solar. Terbongkarnya penimbunan berakibat konsumsi solar turun hingga 40 persen. “Yang bermain di belakang ini ada oknum polisi juga,” ungkapnya.
Kasus nelayan
Sementara itu, Jhon juga mengungkapkan beberapa kasus nelayan menjual solar bantuan dari Pertamina kepada industri. Para nelayan ini disuplai solar dengan harga subsidi sesuai dengan kebutuhannya.
Celakanya, solar itu dilego ke industri dengan harga lebih tinggi. Perhitungannya, jika solar tersebut digunakan untuk melaut, hasilnya tidak sebesar menjual solar itu ke industri.
Selain menghemat waktu, untung yang didapatkan juga lebih besar. Tidak perlu melaut, mesin tidak rusak, tidak habis waktu, dan tidak harus menggaji karyawan. Hasil menjual solar lebih besar dibandingkan dengan melaut. Itu perlu dilakukan pengawasan yang ketat dari aparat.
Di sisi lain, Pertamina juga akan lebih mengutamakan PLN dibandingkan industri. “Untuk solar, meskipun kondisi krisis seperti apa pun, lebih baik menghentikan pasokan ke industri, meskipun itu juga penting. PLN prioritas terpenting dari kami dan itu SOP yang berlaku di seluruh Indonesia,” ujar Jhon.
Mendengar pernyataan dari Jhon Haidir, Wagub Christiandy Sanjaya akan menyurati polda terkait keterlibatan oknum polisi atas penyelewengan BBM ini. “Masalah penyelewengan oleh oknum ini akan kami surati ke polda untuk ditindaklanjuti,” kata Christiandy.
Jika masalah ini tidak segera diselesaikan, pemerintah hanya direcoki urusan sengkarut ini saja, masalah lain terbengkalai. Masih banyak urusan orang ramai yang perlu perhatian. Dia juga menjelaskan, akar masalah dari semua ini memang pada perbedaan harga subsidi dan industri. (kie)
