Ciu Hui Kiang

Jadikan Bubur yang Enak untuk Disajikan

Ciu Hui Kiang
Ciu Hui Kiang

Sebelum terjun ke dunia politik, Ciu Hui Kiang kerap mendengar berbagai stigma tentang politik itu kejam, keras, kasar, bahkan penuh dengan tipu daya.

“Itu pendapat mereka yang memahami dunia politik. Setelah saya masuk ke dunia politik, ternyata politik itu tidak kejam seperti yang mereka pikirkan itu,” tutur legislator PDI Perjuangan ini kepada Rakyat Kalbar, Kamis (26/7)

Hanya saja, lanjut Hui Kiang, tergantung bagaimana orangnya membawa politik itu sendiri. “Kalau dia kejam, politik otomatis akan kejam, tapi kalau orang itu bagus, politik juga ikut bagus,” ujar anggota Komisi C DPRD Kota Pontianak ini.

Ibu seorang anak ini menuturkan, ketika seorang perempuan berkeinginan untuk terjun ke dunia politik, pasti selalu saja dibimbangkan dengan betapa kerasnya dunia politik.

“Berapa tahun saya masuk ke dunia politik, biasa-biasa saja kok, tidak kejam. Saya pikir kesan kerasnya dunia politik atau politik hanya miliknya kaum Adam tidak sepenuhnya benar. Banyak politikus wanita, baik dalam negeri maupun dunia yang keberadaannya sudah menjadi presiden, gubernur, kepala daerah, dan sebagainya,” ujar perempuan kelahiran Pontianak ini.

Dia menceritakan bagaimana pertama kali terjun ke dunia politik. “Saya terjun ke dunia politik diajak teman. Saya tolak karena kata orang politik itu kejam. Tetapi timbul rasa penasaran oleh tantangan, lalu saya coba masuk politik. Ternyata tidak kejam dan keras yang mereka pahamkan. Biasa-biasa saja kok,” ucap anggota Fraksi PDIP ini.

Menurut istrinya Athiam ini, bagi perempuan yang ingin berkecimpung di dunia politik itu sangat bagus. “Kalau perempuan banyak berkecimpung ke dunia politik itu lebih bagus, asalkan jangan lupa kodratnya sebagai perempuan di rumah tangga,” tuturnya.

Hui Kiang punya prinsip, memasuki dunia politik harus mampu menempatkan diri secara pas dan berdaya guna untuk kesejahteraan masyarakat walaupun dalam skala kecil, minimal di sekitar lingkungannya.

“Saya berusaha untuk menjadi politisi yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat. Karena yang namanya politik tidak bisa besar kalau tidak ada dukungan dari masyarakat,” ujar perempuan kelahiran Pontianak, 1976 ini.

Dia berpesan kepada perempuan yang mau menjadi politisi, jangan setengah hati. Berjuanglah untuk kepentingan banyak orang terutama rakyat kecil.

“Ibaratkan kita mau masak nasi, tapi nasinya jadi bubur. Jadikan bubur itu yang enak bisa disajikan kepada orang lain,” pungkasnya. (hak)