Pontianak – Pengamat politik Kalbar Dr Zulkarnaen menilai kemapanan Partai Demokrat di kancah politik masih belum teruji. Partai penguasa ini dinilainya baru satu kali memenangkan Pemilu 2009 lalu. Kini diterpa badai isu korupsi membuat pencitraannya merosot.
“Partai Demokrat ini kan baru sekali jadi pemenang pemilu 2009. Menurut saya belum teruji. Setelah nantinya tidak ada SBY, kekhawatiran figur-figur partai ini akan tenggelam. Jadi, langkah antisipasi tokoh-tokoh di pusat dan daerah dengan pindah partai politik,” tutur Zulkarnaen kepada Rakyat Kalbar di ruang kerjanya, Kamis (26/7).
Demokrat kian diterpa badai. Apalagi ketika Ketua Partai Demokrat Anas Urbaningrum, Andi Malarangeng, Angelina (Angie) Sondakh, dan beberapa tokoh partai lainnya dibidik oleh Komite Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Tetapi menurut saya, sebagai partai penguasa dia rentan terkait memang di Badan Anggaran. Karena akan kuat bersinggungan dengan kementerian di Kabinet SBY. Sehingga bukan mustahil membuat parpol ini tidak tahan godaan juga,” tambah Zulkarnaen.
Hasil penelitian banyak lembaga survei juga menyodok citra Demokrat yang sebelumnya melejit dengan gaya kampanye Obama, tiba-tiba menukik.
“Saya pikir imbas yang ada di nasional tentu juga dibaca di daerah ini. Kalbar kan bercermin ke nasional. Bukan mustahil lingkup lokal akan terjadi hal yang sama. Walaupun belum pernah dilakukan survei secara serius,” jelas Zulkarnaen yang juga dosen Fisip Untan ini.
Fenomena terakhir yang terjadi di Kalbar, loncatnya Milton dari Demokrat ke Golkar. Walaupun dalih Milton loncat ke Golkar karena memperjuangkan Provinsi Kapuas Raya, yang jelas di Demokrat tidak diakomodasi. Bahkan disisihkan dengan alasan hasil survei. Partai Golkar dinilai Milton menjadi kendaraan menarik untuk mewujudkan keinginannya.
“Kita juga tidak menampik kemungkinan sebagai antisipasi tokoh-tokoh daerah, kalau-kalau Partai Demokrat akan tenggelam. Dia (Milton) memilih Golkar, boleh jadi memang Golkar ini partai besar. Pasangan incumbent usungan PDI Perjuangan dan Demokrat, lawan terberatnya ya Partai Golkar,” tutur dosen berkacamata itu.
Zulkarnaen juga memastikan bahwa menghadapi pemilu 2014 akan banyak melahirkan kutu-kutu loncat baru. Karena politik ini cenderung tidak beranjak dari idealisme.
“Banyak orang yang duduk di partai itu dilandasi idealisme yang sama. Atau ada yang sudah dua periode mau masuk lagi ke dewan tidak boleh. Kalau harus naik dan berhitung tidak bakalan menang kalkulasinya. Maka yang pragmatis adalah pindah partai lain,” tutup Zulkarnaen. (kie)
