Sri Kartika

Perempuan Lebih Peduli Masyarakat

Sri Kartika
Sri Kartika

Politik itu kotor dan keras. Benarkah? Seperti bunyi iklan, apa pun partai politiknya, perempuan yang melembutkannya. Sri Kartika setuju kalau kehadiran perempuan di kancah politik itu karena kemandiriannya.

“Maaf, bukan jabatan yang saya kejar. Tapi karena prihatin dengan nasib perempuan selama ini. Memisahkan perempuan dari politik, sama saja dengan memisahkan masyarakat dari lingkungannya,” tegas legislator PPP di DPRD Sanggau berbincang dengan Rakyat Kalbar, kemarin.

Mulanya Sri Kartika terjun ke kancah politik tak langsung bergoyang di kursi dewan. Dia jadi pengurus DPC sementara suaminya dari partai yang sama, H Andi Darsudin, sudah duduk di DPRD Sanggau.

“Saya terjun ke politik bukan mengekor suami, tapi berjuang untuk perempuan yang selama ini seperti terpinggirkan di politik. Dan saya buktikan menjalankan amanah itu,” katanya.

Tapi politik tak membuat Sri Kartika harus kehilangan naluri keibuannya. Justru menjadikan inspirasi baginya untuk lebih berpolitik tenteram, serta tidak selalu alot dan pelik.

“Insya Allah, saya tetap sebagai seorang ibu yang mengerjakan berbagai aktivitas rumah tangga. Malahan membuat saya semakin tenteram dalam berpolitik,” tuturnya.

Kepiawaiannya memadukan urusan keluarga dan politik patut memotivasi kaum perempuan, setidaknya di Sanggau, untuk tampil dalam kesetaraan gender. Perempuan lebih peduli rakyat karena sifat bawaannya yang penyayang. Jauh dari ambisi materi sebagaimana yang dilakukan oleh kaum laki-laki.

“Jadi, bukan maksudnya kita membangun dikotomi antara laki-laki dan perempuan. Karena perempuan pun tanpa kehadiran kaum laki-laki dunia tidak sempurna,” ingatnya.

Sri Kartika tidak ingin muluk-muluk. Apa yang dilakukan merupakan sebuah kewajiban sebagai wakil rakyat. Selain tanggung jawab moral. Bisa membantu, mengakomodasi aspirasi masyarakat adalah kebahagiaan tersendiri baginya.

“Kaum wanita, meskipun kerap ada pembatas, punya potensi dan peran yang sama dalam pembangunan dan memajukan daerahnya. Hanya kodrat sebagai wanita saja, yang tidak bisa dikesampingkan,” ujarnya. (SrY)